Tampilkan postingan dengan label Sumberejo Village. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sumberejo Village. Tampilkan semua postingan

Andoyo, Nama Cuma Satu Kata: Andoyo

Nama saya Andoyo.

Hehe..., mohon maaf pembaca. Kalau postingan kali ini agak nyleneh. Iya, kali ini memang tujuannya untuk memasarkan diri di bidang pembentukan nama. Katakanlah self marketing, tujuannya agar nama saya bisa diindek oleh search engine, Google.com misalnya. Tapi di sisi terdalamnya, adalah memahami filosofi kenapa Ibu tercinta saya memberikan nama itu.

Nama saya Andoyo, nama yang ringkas. Karena ibu saya cuma memberikan nama Andoyo, cukup Andoyo. Pernah pada saat berumur balita Ibu mengubah nama saya menjadi Winarno. Ini karena waktu itu saya suka sakit-sakitan dan suka pingsan. Sang Pencipta, Maha Tahu sehingga memberikan nikmatnya kepada Ibu saya untuk memberikan nama itu.

Nama Blog ini berasal dari kombinasi nama saya Andoyo dan Anny, panggilan saya kepada istri saya Eflita Meiyetriani. Silakan lihat Profil saya jika berkenan.

Nama Andoyo adalah nama yang mudah diingat karena simple, dan cuma terdiri dari satu kata. Andoyo berarti dorongan, motivasi, support dan sugesti. Nama yang diharapkan sosok penyandangnya menjadi seorang motivator, pendorong dan pemberi sugesti kebaikan. Ibu yang bijak, anakmua sayang padamu.

Andoyo adalah nama yang sangat berarti bagi saya. Nama yang kadang juga menjadi bahan pertanyaan orang-orang bule karena tanpa ada last name, cuma first name. Yaitu Andoyo.

Kadang-kadang saat saya mengisi beberapa formulir online yang harus mencantumkan nama first name dan family name, maka dua-duanya saya tulis satu nama yang sama sehingga kalau di baca jadi Andoyo Andoyo. Ada juga yang saya tambahkan Adi di tengahnya untuk menghubungkan nama asli saya dengan nama kecil saya, Andoyo Adi Winarno.

SD Negeri Sumberejo Kecamatan Japah Kabupaten Blora

Sekolah Dasar Negeri Sumberejo Kecamatan Japah Kabupaten Blora Propinsi Jawa Tengah, ya ini adalah tempat pertama kali dimana saya sekolah. Sekolah dengan 5 kelas dan 1 ruang kantor sekaligus ruang guru ini terletak tak jauh dari pusat desa. Jalan kaki kira-kira ya sepuluh atau lima belas menit. Sekolah yang sebenarnya jauh dari peradaban perkotaan.

Sekolah dengan lapangannya yang luas, sehingga kami puas bermain. Alam yang masih asri dan jauh dari polusi. Tanpa lalu lalang kendaraan yang membahayakan kami. Sekolah yang menyenangkan.

Saya masih ingat dengan Pak Paryono almarhum, guru saya waktu kelas satu dan kelas dua. Beliau rela mengayuh sepedanya yang berjarak 6 kilometer demi untuk mengajar kami. Lalu Pak Siswanto, guru saya waktu kelas 3, dari beliaulah saya pertama kalinya diberi rangking 1 di kelas. Lalu Pak Masudji, guru kelas 4 yang galak dan juga memberi saya nilai terbaik di kelas.

Pak Djoko Suryono mungkin adalah guru saya waktu kelas 5, rumahnya yang tepat berada di depan rumah saya memaksa saya untuk belajar lebih giat. Ada banyak buku, koran dan majalah yang beliau sediakan di saat saya masih belia. Saya ucapkan terimakasih yang besar, di usia 11 tahun saya telah banyak membaca majalah dan koran yang banyak memberi saya gambaran tentang pendidikan tinggi, kuliah di luar negeri dan sebagainya. Saya masih ingat, saat itu saya suka sekali membaca majalah Intisari. Membaca tentang petualangan di alam liar Afrika dimana saat teman-teman sebaya saya tidak menyukainya, entah kapan saya mengunjunginya. Saya bersyukur karena sekarang saya berkesempatan berpetualang dari pulau ke pulau di Indonesia dan ke Selandia Baru. Terima kasih atas ilmunya yang beliau sampaikan, melalui buku dan majalah yang disediakan untuk saya baca.

Lalu Pak Kukuh, guru kelas enam. Saya ucapkan terimakasih atas pengajaran yang diberikan. Pak Soekemi (almarhum), Kepala Sekolah kami yang begitu tegas dan disiplin mengajar anak-anaknya. Beliau adalah guru produk jaman Belanda yang dengan tegas menerapkan disiplin, memotong kuku, duduk tenang saat belajar dan mengajar matematika sehingga mudah saya pahami. Pak Mustaqim, guru agama yang mengajarkan Fiqih, Hadist, dan Aqidah. Dari beliaulah saya mengenal membaca dan menulis Al Qur'an. Terima kasih kepada beliau semuanya.

Sekolah yang dulu di saat saya belajar masih belum ada Taman Kanak-Kanak-nya sekarang alhamdulillah sudah berdampingan. Mudah-mudahan bisa menjadi sekolah yang lebih baik dibanding masa saya sekolah dulu.