Tampilkan postingan dengan label Keluarga. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Keluarga. Tampilkan semua postingan

Kegelisahan Ketika Menginjak Usia 30-an, Menantikan Mr./Miss. Perfect, Kalau Tidak Ada ya Mr./Miss. Right Now

Ada banyak kisah suka duka saat kita belajar dan bekerja di negeri Kiwi ini. Ada yang akhirnya putus dengan kekasih lamanya karena menemukan sosok pendamping yang didambakan dan akhirnya menikah dengannya.

Ada pula yang lama menunggu kehamilan di Indonesia namun akhirnya istri hamil setelah satu bulan di New Zealand, itulah yang kami alami.


Ada pula yang sampai saat ini masih menunggu Mr. Perfect dan Miss. Perfect. Saya tidak tahu sampai kapan mereka akan mendapatkannya, hanya saja kita ikut berdoa untuk mereka sehingga mendapatkan Mr. dan Miss. Perfect yang mereka dambakan.

Ide untuk menulis ini sebenarnya karena saya teringat pernah membaca sebuah artikel di harian Dominion Post New Zealand. Saya lupa judulnya, tapi artikel itu memang cukup menarik bagi saya, meskipun bukan untuk saya pribadi, tapi untuk teman-teman saya yang belum kunjung menikah karena menantikan Mr. dan Miss. Perfect.

Artikel ini tidak bermaksud mengesampingkan peran takdir dalam kehidupan, tapi ingin mencoba membahas dan mengupas lebih dalam dari perspektif lain yang lebih logis.

Artikel itu cukup ringkas, namun cukup dalam isinya. Isi awalnya bercerita tentang gelisahnya kaum Hawa (wanita) yang mulai resah ketika menginjak usia 30 tahunan karena belum juga mendapatkan pendamping. Meskipun mereka sudah mapan secara finansial dan pendidikan. Ketidak adaan seorang pendamping ternyata tetap membuat membuat mereka resah.

Dari beberapa hasil riset yang disampaikan dalam artikel itu, ada beberapa penyebab mengapa kaum Hawa harus menunggu begitu lama untuk mendapatkan pendamping. Pada usia di bawah 30 tahunan kebanyakan dari mereka menantikan Mr. Perfect untuk menjadi pendamping hidup mereka. Ini bukan hanya karena dipengaruhi oleh diri mereka sendiri, namun juga dipengaruhi oleh media-media dari luar sehingga mereka berpikir seperti itu.

Kisah-kisah dalam film, novel dan buku-buku banyak menggambarkan Mr. Perfect sebagai pendamping hidup terbaik bagi seorang wanita. Masalahnya dalam kehidupan nyata tidaklah banyak tersedia Mr. Perfect seperti yang digambarkan itu.

Pilihan pun akhirnya jatuh pada Mr. Right Now ketika usia kaum Hawa menginjak 30 tahunan lebih.

Dalam hal ini, bagi saya tidaklah menjadi masalah, tergantung dari mereka yang ingin menjalani. Hanya saja ada baik kita juga membuat listing dari standar dan persyaratan yang menurut kita baik. Membuat listing standarisasi dari Mr. Right Now tampaknya bisa kita gunakan untuk menilai sang Mr. ini layak atau tidak menjadi pendamping. Katakanlah dari standarisasi yang kita buat dan Mr. Right Now sudah memenuhi lebih dari 51% dari standar yang kita buat, maka itu cukup acceptable.

Ada komentar lain?

Kangen Anak dan Istri, Telpon Saja (Membahas Layanan Seluler GSM di New Zealand)

Pagiku cerahku, matahari bersinar...
Kugendong tas merahku, di pundak...
Selamat pagi semua, kunantikan dirimu...
Di depan kelasmu, menantikan kami...

Guruku tersayang, guru tercinta...
Tanpa dirimu, apa jadinya aku...
Tak bisa baca tulis, mengerti banyak hal...
Guruku terima kasihku... dst

Hayooo, siapa yang tau lagu ini? Sound track Laskar Pelangi yang dinyanyikan para peserta AFI berjudul Terima Kasih Guruku ini mengalun merdu di hape saya. Berarti istri saya mengirimkan SMS dari Indonesia.

"Aslmwrwb.Sayang lg apa?Masih bobo yah?Dedek Kheira lagi rewel,ga tahu knp.Dia mau bilang kangen ama ayah.Dedek Kheira titip peluk dan cium sayang buat ayah.Love you..."

Sender:
Aa Anny
+628571xxxxxxxx
Received:
20:24:57
03-01-2010



Komunikasi selalu mengalami perubahan ke arah yang lebih baik dari waktu ke waktu, itulah yang saya rasakan. Kalau pada jaman saya STM dulu masih surat-suratan, maka kuliah sudah mulai menggunakan email dan hape.

Begitu juga dengan komunikasi antara New Zealand dan Indonesia. Pada awal-awal di sini saya menggunakan Vodafone untuk menjalin komunikasi dengan keluarga di Indonesia karena pada saat itu memang masih belum ada operator lain untuk GSM. Kalaupun CDMA hanya ada Telecom.

Begitu ada Two Degrees dilaunching, maka saya pun beralih ke operator baru ini karena tarif telepon dan SMS yang jauh lebih murah. Tarif SMS Vodafone ke luar negeri adalah 25 cents, kalau Two Degrees 9 cents, kalau lokal Vodafone 20 cents, Two Degrees tetap 9 cents (tapi dapat 100 SMS gratis tiap bulan ke semua operator di New Zealand, jadi yang 9 cents baru berlaku kalau 100 SMS gratisnya sudah habis).

Tarif telepon pun sangat berbeda jauh, Two Degress menawarkan 22 cents/menit untuk telpon sedangkan Vodafone saya tidak tahu berapa persisnya, tapi untuk $10 hanya bisa telpon sekitar 3-5 menit. Untuk saat ini, saya tidak begitu khawatir jika harus menelpon ke Indonesia dengan operator baru ini. Suaranya jernih, tak ada delay time yang sangat panjang seperti di Telephone Card yang ditawarkan Vodafone.

Keunggulan Vodafone untuk saat ini adalah banyaknya tersedia 3G Access, Telephone Card semacam Super Buss Asia, V-Card dan masih banyak lagi yang menawarkan $10 bisa menelpon sekitar 75 menitan. Tapi masalah kualitas suaranya? Sangat buruk sekali dan biasanya kalau menelpon harus seperti orang bertengkar. Delay timenya terasa sangat mengganggu sekali. Sungguh tidak nyaman.

Harga perdana SIM Card masing-masing operator ini juga berbeda sangat jauh. Kalau harga SIM Card Vodafone baru $35 maka untuk Two Degrees ada beberapa pilihan dari yang $2, $20 dan $30. Akhirnya saya pilih yang $2.

Keunggulan Two Degrees menurut saya adalah kualitas pelayanan yang cukup baik, tarif yang murah memberikan wacana baru untuk competitor lain dan kemudahan untuk swap over ke nomor lama kita.



Jadi begini, saya punya nomor Vodafone dimana kebanyakan teman-teman saya mengenal nomor ini. Maka Two Degrees memberikan fasilitas swap over untuk mereplace nomer lama kita tersebut menjadi pelanggannya. Artinya kita memiliki nomor yang sama, tapi berubah operator yang semula nomor itu milik Vodafone akhirnya menjadi milik Two Degrees.

Prosesnya pun cukup singkat, kurang dari satu hari melalui pendaftaran telepon atau online. Dari berita terakhir kemarin, sejak 4 bulan launching, Two Degress telah mengganti sekitar 27.000 nomor Vodafone menjadi Two Degrees. Sebuah angka yang cukup besar dengan penduduk hanya 4,3 juta jiwa dalam satu negara.

First Name and Last Name, Suka Dukanya Punya Satu Nama

Pagi itu saya pergi ke sebuah bank untuk membuat account rekening baru. Berbeda dengan bank sebelumnya yang saat pendaftaran didampingi oleh Student Adviser, maka kali ini saya berangkat sendiri.

Setelah lima menit antri untuk berkonsultasi dengan petugas bank akhirnya giliran nomor antrian saya muncul di layar antrian.

"Hi Sir, good morning. How are you?" tanya teller bank itu dengan manisnya.
"Not bad, how are you?"
"I am good sir. How I can help you?"
"I want to make a new account in this bank. Could you help me please?"
"Sure Sir. What is your first name Sir?" sebuah pertanyaan lagi diajukan yang sering diajukan dan biasanya harus aku jawab dengan panjang lebar untuk menjelaskan bahwa satu nama adalah hal umum yang terjadi di Indonesia.

"My name is Andoyo."
"And your last name?", Sang Teller mengajukan pertanyaan lagi.


"Actually I only have one name, that is Andoyo."
"I am so sorry Sir. This is a strange thing. Do you have an ID Sir? I need to check your ID to make sure that you only have one name." Saya pun menyerahkan sebuah student card yang biasanya saya gunakan untuk transaksi di bank berbeda yang menjadi account utama saya.

"I am so sorry Sir, I can't use this ID. Do you have a passport? That's gonna be great." Akhirnya kuserahkan pasport saya yang tersimpan rapi dalam tas.

"OK, that's great Sir. How I can put your name in your account Sir? It is because we have to put your first name and your last name. I can't put only one name in this system."

"You can put my first name Andoyo and my last name Andoyo." Teller itu akhirnya mengetikkan nama itu di komputernya.
"That's great Sir. Now, you have a new account Sir and your name in this account is Andoyo Andoyo."

Nah..., itu adalah salah satu pengalaman saya karena hanya memiliki satu nama. First name dan last name di negara-negara barat adalah sesuatu yang sepertinya sudah menjadi ciri khas bagi mereka. Bukan hanya dalam kehidupan sehari-hari tapi juga dalam system komputer mereka.

Beberapa pengalaman serupa juga sering saya alami ketika booking akomodasi, mengajukan permohonan ijin di imigrasi, transaksi online dan saat melamar kerja. Saat berkenalan dengan teman-teman baru juga sering menjadi bahan pembicaraan karena hanya memiliki satu nama.

Makanya, putri pertama saya akhirnya kami beri nama yang cukup panjang. Soalnya pengalaman dari ayahnya saat keluar negeri selalu harus menjelaskan lebih dari dua menit tentang mengapa hanya memiliki satu nama.

Pembaca ada pengalaman serupa ga nih? Sharing yuk...





Pasangan Hidup Sejati (Sebuah Renungan)

Suatu ketika, ada seorang pedagang kaya yang mempunyai 4 orang istri.

Dia mencintai istri yang keempat, dan menganugerahinya harta dan kesenangan yang banyak. Sebab, dialah yang tercantik diantara semua istrinya. Pria ini selalu memberikan yang terbaik buat istri keempatnya ini.



Pedagang itu juga mencintai istrinya yang ketiga. Dia sangat bangga dengan istrinya ini, dan selalu berusaha untuk memperkenalkan wanita ini kepada semua temannya. Namun, ia juga selalu khawatir kalau istrinya ini akan lari dengan pria yang lain.

Begitu juga dengan istri yang kedua. Ia pun sangat menyukainya. Ia adalah istri yang sabar dan pengertian. Kapanpun pedagang ini mendapat masalah, dia selalu meminta pertimbangan istrinya ini. Dialah tempat bergantung. Dia selalu menolong dan mendampingi suaminya, melewati masa-masa yang sulit.

Sama halnya dengan istri yang pertama. Dia adalah pasangan yang sangat setia. Dia selalu membawa perbaikan bagi kehidupan keluarga ini. Dialah yang merawat dan mengatur semua kekayaan dan usaha sang suami. Akan tetapi, sang pedagang tak begitu mencintainya. Walaupun sang istri pertama ini begitu sayang padanya, namun, pedagang ini tak begitu mempedulikannya.

Suatu ketika, si pedagang sakit. Lama kemudian, ia menyadari, bahwa ia akan segera meninggal. Dia meresapi semua kehidupan indahnya, dan berkata dalam hati. "Saat ini, aku punya 4 orang istri. Namun, saat aku meninggal, aku akan sendiri. Betapa menyedihkan jika aku harus hidup sendiri."

Lalu, ia meminta semua istrinya datang, dan kemudian mulai bertanya pada istri Keempatnya. "Kaulah yang paling kucintai, kuberikan kau gaun dan perhiasan yang indah. Nah, sekarang, aku akan mati, maukah kau mendampingiku dan menemaniku? Ia terdiam. "Tentu saja tidak, " jawab istri keempat, dan pergi begitu saja tanpa berkata-kata lagi. Jawaban itu sangat menyakitkan hati. Seakan-akan, ada pisau yang terhunus dan mengiris-iris hatinya.

Pedagang yang sedih itu lalu bertanya pada istri ketiga. "Akupun mencintaimu sepenuh hati, dan saat ini, hidupku akan berakhir. Maukah kau ikut denganku, dan menemani akhir hayatku? Istrinya menjawab, Hidup begitu indah disini. Aku akan menikah lagi jika kau mati. Sang pedagang begitu terpukul dengan ucapan ini.

Lalu, ia bertanya pada istri keduanya. "Aku selalu berpaling padamu setiap kali mendapat masalah. Dan kau selalu mau membantuku.Kini, aku butuh sekali pertolonganmu. Kalau ku mati, maukah kau ikut dan mendam pingiku? Sang istri menjawab pelan. "Maafkan aku," ujarnya" Aku tak bisa menolong mu kali ini. Aku hanya bisa mengantarmu hingga ke liang kubur saja. Nanti, akan kubuatkan makam yang indah buatmu. Jawaban itu seperti kilat yang menyambar. Sang pedagang kini merasa putus asa.

Tiba-tiba terdengar sebuah suara. "Aku akan tinggal denganmu. Aku akan ikut kemanapun kau pergi. Aku, tak akan meninggalkanmu, aku akan setia bersamamu. Sang pedagang lalu menoleh ke samping, dan mendapati istri pertamanya disana. Dia tampak begitu kurus. Badannya tampak seperti orang yang kelaparan. Merasa menyesal, sang pedagang lalu bergumam, "Kalau saja, aku bisa merawatmu lebih baik saat ku mampu, tak akan kubiarkan kau seperti ini, istriku."


KESIMPULANNYA

Sesungguhnya kita punya 4 orang istri dalam hidup ini.

Istri yang keempat, adalah tubuh kita. Seberapapun banyak waktu dan biaya yang kita keluarkan untuk tubuh kita supaya tampak indah dan gagah, semuanya akan hilang. Ia akan pergi segera kalau kita meninggal. Tak ada keindahan dan kegagahan yang tersisa saat kita menghadap-Nya.

Istri yang ketiga, adalah status sosial dan kekayaan. Saat kita meninggal, semuanya akan pergi kepada yang lain. Mereka akan berpindah, dan melupakan kita yang pernah memilikinya.

Sedangkan istri yang kedua, adalah kerabat dan teman-teman. Seberapapun dekat hubungan kita dengan mereka, mereka tak akan bisa bersama kita selamanya. Hanya sampai kuburlah mereka akan menemani kita.

Dan sesungguhnya, istri pertama kita adalah jiwa dan amal kita. Mungkin, kita sering mengabaikan, dan melupakannya demi kekayaan dan kesenangan pribadi. Namun, sebenarnya, hanya jiwa dan amal kita sajalah yang mampu untuk terus setia dan mendampingi kemanapun kita melangkah. Hanya amal yang mampu menolong kita di akhirat kelak.

Selagi mampu, perlakukanlah jiwa dan amal kita dengan bijak. Jangan sampai kita menyesal belakangan.

Sumber http://family100.multiply.com


Video Kenangan di Selandia Baru

Berikut ini adalah video tentang New Zealand atau Selandia Baru. Beberapa lokasi yang menjadi tempat pengambilan gambar adalah Botanic Garden, Karori Sanctuary, Kilbirnie Mosque, Wellington City dan beberapa lokasi di kota Wellington.



Video Kenangan di Selandia Baru


Kheira Alexandrina Andoyo

src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjo2viLTK0reBORmQSaTtNo297OmBwzaYiqXTQtKb0h3goJ-SskAtK9knnAnATMltwU9yx_VyTZG7d-3morG3htaWDD3J_QNzQteaXeYwCNgese_uR62E8z0Pjd86RExTN-VC50W1ly_GQ/s320/Kheira+Alexandrina+Andoyo+%285%29.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5409017171234867266" border="0" />









Kheira Alexandrina Andoyo



Kami Andoyo dan istri tercinta Eflita Meiyetriani beserta keluarga mengucakan rasa syukur pada Allah dan terimakasih kepada yang telah membantu dalam kehidupan kami.

Alhamdulillah, telah lahir putri pertama kami pada hari Kamis kurang lebih pukul 22.30 WIB di RS Mitra Keluarga Depok.

Mohon doanya agar menjadi anak yang sholehah, bermanfaat di dunia dan akhirat.

Kheira Alexandrina Andoyo

Doa Seorang Suami

Kehidupan berkeluarga itu ternyata lebih mengasyikkan dari yang kubayangkan...

Ada kebahagiaan saat bertemu keluarga tercinta...

Ada keberkahan dan kesenangan ketika bercanda berdua dengan istri yang disayangi...

Ada hati yang berdebar-debar menantikan kelahiran anak pertama...
Ada kedewasaan yang tumbuh untuk belajar bertanggung jawab...

Ada waktu untuk bermanja dan dimanja...

Ada pula pertengkaran kecil yang membuat kami saling menyayangi dan memahami...

Terimakasih ya Allah, Engkau telah menaikkan derajatku dari seorang bujangan menjadi seorang suami...

Jadikanlah hamba sebagai suami yang memberikan kemudahan dunia dan akhirat...

CINTA LAKI-LAKI BIASA (True Story)


Ditulis oleh Farid Ma'ruf di/pada Februari 4, 2007

Artikel Bebas
30 Juli 2005 – 12:02


Menjelang hari H, Nania masih saja sulit mengungkapkan alasan kenapa dia mau menikah dengan lelaki itu. Baru setelah menengok ke belakang, hari-hari yang dilalui, gadis cantik itu sadar, keheranan yang terjadi bukan semata miliknya, melainkan menjadi milik banyak orang; Papa dan Mama, kakak-kakak, tetangga, dan teman-teman Nania. Mereka ternyata sama herannya.


Kenapa? Tanya mereka di hari Nania mengantarkan surat undangan.


Saat itu teman-teman baik Nania sedang duduk di kantin menikmati hari-hari sidang yang baru saja berlalu. Suasana sore di kampus sepi. Berpasang-pasang mata tertuju pada gadis itu.


Tiba-tiba saja pipi Nania bersemu merah, lalu matanya berpijar bagaikan lampu neon limabelas watt. Hatinya sibuk merangkai kata-kata yg barangkali beterbangan di otak melebihi kapasitas. Mulut Nania terbuka. Semua menunggu. Tapi tak ada apapun yang keluar dari sana. Ia hanya menarik nafas, mencoba bicara dan? menyadari, dia tak punya kata-kata!


Dulu gadis berwajah indo itu mengira punya banyak jawaban, alasan detil dan spesifik, kenapa bersedia menikah dengan laki-laki itu. Tapi kejadian di kampus adalah kali kedua Nania yang pintar berbicara mendadak gagap. Yang pertama terjadi tiga bulan lalu saat Nania menyampaikan keinginan Rafli untuk melamarnya. Arisan keluarga Nania dianggap momen yang tepat karena semua berkumpul, bahkan hingga generasi ketiga, sebab kakak-kakaknya yang sudah berkeluarga membawa serta buntut mereka.


Kamu pasti bercanda!


Nania kaget. Tapi melihat senyum yang tersungging di wajah kakak tertua, disusul senyum serupa dari kakak nomor dua, tiga, dan terakhir dari Papa dan Mama membuat Nania menyimpulkan: mereka serius ketika mengira Nania bercanda.


Suasana sekonyong-konyong hening. Bahkan keponakan-keponakan Nania yang balita melongo dengan gigi-gigi mereka yang ompong. Semua menatap Nania!


Nania serius! tegasnya sambil menebak-nebak, apa lucunya jika Rafli memang melamarnya.


Tidak ada yang lucu, suara Papa tegas, Papa hanya tidak mengira Rafli berani melamar anak Papa yang paling cantik!


Nania tersenyum. Sedikit lega karena kalimat Papa barusan adalah pertanda baik. Perkiraan Nania tidak sepenuhnya benar sebab setelah itu berpasang-pasang mata kembali menghujaninya, seperti tatapan mata penuh selidik seisi ruang pengadilan pada tertuduh yang duduk layaknya pesakitan.


Tapi Nania tidak serius dengan Rafli, kan? Mama mengambil inisiatif bicara, masih seperti biasa dengan nada penuh wibawa, maksud Mama siapa saja boleh datang melamar siapapun, tapi jawabannya tidak harus iya, toh?


Nania terkesima.


Kenapa?


Sebab kamu gadis Papa yang paling cantik.


Sebab kamu paling berprestasi dibandingkan kami. Mulai dari ajang busana, sampai lomba beladiri. Kamu juga juara debat bahasa Inggris, juara baca puisi seprovinsi. Suaramu bagus!


Sebab masa depanmu cerah. Sebentar lagi kamu meraih gelar insinyur. Bakatmu yang lain pun luar biasa. Nania sayang, kamu bisa mendapatkan laki-laki manapun yang kamu mau!


Nania memandangi mereka, orang-orang yang amat dia kasihi, Papa, kakak-kakak, dan terakhir Mama. Takjub dengan rentetan panjang uraian mereka atau satu kata ‘kenapa’ yang barusan Nania lontarkan.


Nania Cuma mau Rafli, sahutnya pendek dengan airmata mengambang di kelopak.


Hari itu dia tahu, keluarganya bukan sekadar tidak suka, melainkan sangat tidak menyukai Rafli. Ketidaksukaan yang mencapai stadium empat. Parah.


Tapi kenapa?


Sebab Rafli cuma laki-laki biasa, dari keluarga biasa, dengan pendidikan biasa, berpenampilan biasa, dengan pekerjaan dan gaji yg amat sangat biasa.


Bergantian tiga saudara tua Nania mencoba membuka matanya.


Tak ada yang bisa dilihat pada dia, Nania!


Cukup!


Nania menjadi marah. Tidak pada tempatnya ukuran-ukuran duniawi menjadi parameter kebaikan seseorang menjadi manusia. Di mana iman, di mana tawakkal hingga begitu mudah menentukan masa depan seseorang dengan melihat pencapaiannya hari ini?


Sayangnya Nania lagi-lagi gagal membuka mulut dan membela Rafli. Barangkali karena Nania memang tidak tahu bagaimana harus membelanya. Gadis itu tak punya fakta dan data konkret yang bisa membuat Rafli tampak ‘luar biasa’. Nania Cuma punya idealisme berdasarkan perasaan yang telah menuntun Nania menapaki hidup hingga umur duapuluh tiga. Dan nalurinya menerima Rafli. Di sampingnya Nania bahagia.


Mereka akhirnya menikah.


***


Setahun pernikahan.


Orang-orang masih sering menanyakan hal itu, masih sering berbisik-bisik di belakang Nania, apa sebenarnya yang dia lihat dari Rafli. Jeleknya, Nania masih belum mampu juga menjelaskan kelebihan-kelebihan Rafli agar tampak di mata mereka.


Nania hanya merasakan cinta begitu besar dari Rafli, begitu besar hingga Nania bisa merasakannya hanya dari sentuhan tangan, tatapan mata, atau cara dia meladeni Nania. Hal-hal sederhana yang membuat perempuan itu sangat bahagia.


Tidak ada lelaki yang bisa mencintai sebesar cinta Rafli pada Nania.


Nada suara Nania tegas, mantap, tanpa keraguan.


Ketiga saudara Nania hanya memandang lekat, mata mereka terlihat tak percaya.


Nia, siapapun akan mudah mencintai gadis secantikmu! Kamu adik kami yang tak hanya cantik, tapi juga pintar! Betul. Kamu adik kami yang cantik, pintar, dan punya kehidupan sukses!


Nania merasa lidahnya kelu. Hatinya siap memprotes. Dan kali ini dilakukannya sungguh-sungguh. Mereka tak boleh meremehkan Rafli.


Beberapa lama keempat adik dan kakak itu beradu argumen.


Tapi Rafli juga tidak jelek, Kak!
Betul. Tapi dia juga tidak ganteng kan?


Rafli juga pintar!
Tidak sepintarmu, Nania.


Rafli juga sukses, pekerjaannya lumayan. Hanya lumayan, Nania. Bukan sukses. Tidak sepertimu.


Seolah tak ada apapun yang bisa meyakinkan kakak-kakaknya, bahwa adik mereka beruntung mendapatkan suami seperti Rafli. Lagi-lagi percuma.


Lihat hidupmu, Nania. Lalu lihat Rafli!
Kamu sukses, mapan, kamu bahkan tidak perlu lelaki untuk menghidupimu.


Teganya kakak-kakak Nania mengatakan itu semua. Padahal adik mereka sudah menikah dan sebentar lagi punya anak.


Ketika lima tahun pernikahan berlalu, ocehan itu tak juga berhenti. Padahal Nania dan Rafli sudah memiliki dua orang anak, satu lelaki dan satu perempuan. Keduanya menggemaskan. Rafli bekerja lebih rajin setelah mereka memiliki anak-anak. Padahal itu tidak perlu sebab gaji Nania lebih dari cukup untuk hidup senang. Tak apa, kata lelaki itu, ketika Nania memintanya untuk tidak terlalu memforsir diri. Gaji Nania cukup, maksud Nania jika digabungkan dengan gaji Abang.


Nania tak bermaksud menyinggung hati lelaki itu. Tapi dia tak perlu khawatir sebab suaminya yang berjiwa besar selalu bisa menangkap hanya maksud baik..


Sebaiknya Nania tabungkan saja, untuk jaga-jaga. Ya? Lalu dia mengelus pipi Nania dan mendaratkan kecupan lembut. Saat itu sesuatu seperti kejutan listrik menyentakkan otak dan membuat pikiran Nania cerah.


Inilah hidup yang diimpikan banyak orang. Bahagia!


Pertanyaan kenapa dia menikahi laki-laki biasa, dari keluarga biasa, dengan pendidikan biasa, berpenampilan biasa, dengan pekerjaan dan gaji yang amat sangat biasa, tak lagi mengusik perasaan Nania. Sebab ketika bahagia, alasan-alasan menjadi tidak penting.


Menginjak tahun ketujuh pernikahan, posisi Nania di kantor semakin gemilang, uang mengalir begitu mudah, rumah Nania besar, anak-anak pintar dan lucu, dan Nania memiliki suami terbaik di dunia. Hidup perempuan itu berada di puncak!


Bisik-bisik masih terdengar, setiap Nania dan Rafli melintas dan bergandengan mesra. Bisik orang-orang di kantor, bisik tetangga kanan dan kiri, bisik saudara-saudara Nania, bisik Papa dan Mama.


Sungguh beruntung suaminya. Istrinya cantik.
Cantik ya? dan kaya!


Tak imbang!

Dulu bisik-bisik itu membuatnya frustrasi. Sekarang pun masih, tapi Nania belajar untuk bersikap cuek tidak peduli. Toh dia hidup dengan perasaan bahagia yang kian membukit dari hari ke hari.


Tahun kesepuluh pernikahan, hidup Nania masih belum bergeser dari puncak. Anak-anak semakin besar. Nania mengandung yang ketiga. Selama kurun waktu itu, tak sekalipun Rafli melukai hati Nania, atau membuat Nania menangis.


***


Bayi yang dikandung Nania tidak juga mau keluar. Sudah lewat dua minggu dari waktunya.

Plasenta kamu sudah berbintik-bintik. Sudah tua, Nania. Harus segera dikeluarkan!

Mula-mula dokter kandungan langganan Nania memasukkan sejenis obat ke dalam rahim Nania. Obat itu akan menimbulkan kontraksi hebat hingga perempuan itu merasakan sakit yang teramat sangat. Jika semuanya normal, hanya dalam hitungan jam, mereka akan segera melihat si kecil.


Rafli tidak beranjak dari sisi tempat tidur Nania di rumah sakit. Hanya waktu-waktu shalat lelaki itu meninggalkannya sebentar ke kamar mandi, dan menunaikan shalat di sisi tempat tidur. Sementara kakak-kakak serta orangtua Nania belum satu pun yang datang.


Anehnya, meski obat kedua sudah dimasukkan, delapan jam setelah obat pertama, Nania tak menunjukkan tanda-tanda akan melahirkan. Rasa sakit dan melilit sudah dirasakan Nania per lima menit, lalu tiga menit. Tapi pembukaan berjalan lambat sekali.


Baru pembukaan satu. Belum ada perubahan, Bu. Sudah bertambah sedikit, kata seorang suster empat jam kemudian menyemaikan harapan.


Sekarang pembukaan satu lebih sedikit. Nania dan Rafli berpandangan. Mereka sepakat suster terakhir yang memeriksa memiliki sense of humor yang tinggi.


Tigapuluh jam berlalu. Nania baru pembukaan dua. Ketika pembukaan pecah, didahului keluarnya darah, mereka terlonjak bahagia sebab dulu-dulu kelahiran akan mengikuti setelah ketuban pecah. Perkiraan mereka meleset.


Masih pembukaan dua, Pak! Rafli tercengang. Cemas. Nania tak bisa menghibur karena rasa sakit yang sudah tak sanggup lagi ditanggungnya. Kondisi perempuan itu makin payah. Sejak pagi tak sesuap nasi pun bisa ditelannya.


Bang? Rafli termangu. Iba hatinya melihat sang istri memperjuangkan dua kehidupan.


Dokter?


Kita operasi, Nia. Bayinya mungkin terlilit tali pusar.

Mungkin? Rafli dan Nania berpandangan. Kenapa tidak dari tadi kalau begitu? Bagaimana jika terlambat?


Mereka berpandangan, Nania berusaha mengusir kekhawatiran. Ia senang karena Rafli tidak melepaskan genggaman tangannya hingga ke pintu kamar operasi. Ia tak suka merasa sendiri lebih awal.


Pembiusan dilakukan, Nania digiring ke ruangan serba putih. Sebuah sekat ditaruh di perutnya hingga dia tidak bisa menyaksikan ketrampilan dokter-dokter itu. Sebuah lagu dimainkan. Nania merasa berada dalam perahu yang diguncang ombak. Berayun-ayun. Kesadarannya naik-turun. Terakhir, telinga perempuan itu sempat menangkap teriakan-teriakan di sekitarnya, dan langkah-langkah cepat yang bergerak, sebelum kemudian dia tak sadarkan diri.


Kepanikan ada di udara. Bahkan dari luar Rafli bisa menciumnya. Bibir lelaki itu tak berhenti melafalkan zikir.


Seorang dokter keluar, Rafli dan keluarga Nania mendekat.


Pendarahan hebat!


Rafli membayangkan sebuah sumber air yang meluap, berwarna merah. Ada varises di mulut rahim yang tidak terdeteksi dan entah bagaimana pecah! Bayi mereka selamat, tapi Nania dalam kondisi kritis.


Mama Nania yang baru tiba, menangis. Papa termangu lama sekali. Saudara-saudara Nania menyimpan isak, sambil menenangkan orangtua mereka.


Rafli seperti berada dalam atmosfer yang berbeda. Lelaki itu tercenung beberapa saat, ada rasa cemas yang mengalir di pembuluh-pembuluh darahnya dan tak bisa dihentikan, menyebar dan meluas cepat seperti kanker.


Setelah itu adalah hari-hari penuh doa bagi Nania.



***


Sudah seminggu lebih Nania koma. Selama itu Rafli bolak-balik dari kediamannya ke rumah sakit. Ia harus membagi perhatian bagi Nania dan juga anak-anak. Terutama anggota keluarganya yang baru, si kecil. Bayi itu sungguh menakjubkan, fisiknya sangat kuat, juga daya hisapnya. Tidak sampai empat hari, mereka sudah oleh membawanya pulang.


Mama, Papa, dan ketiga saudara Nania terkadang ikut menunggui Nania di rumah sakit, sesekali mereka ke rumah dan melihat perkembangan si kecil. Walau tak banyak, mulai terjadi percakapan antara pihak keluarga Nania dengan Rafli.


Lelaki itu sungguh luar biasa. Ia nyaris tak pernah meninggalkan rumah sakit, kecuali untuk melihat anak-anak di rumah. Syukurnya pihak perusahaan tempat Rafli bekerja mengerti dan memberikan izin penuh. Toh, dedikasi Rafli terhadap kantor tidak perlu diragukan.


Begitulah Rafli menjaga Nania siang dan malam. Dibawanya sebuah Quran kecil, dibacakannya dekat telinga Nania yang terbaring di ruang ICU. Kadang perawat dan pengunjung lain yang kebetulan menjenguk sanak famili mereka, melihat lelaki dengan penampilan sederhana itu bercakap-cakap dan bercanda mesra..


Rafli percaya meskipun tidak mendengar, Nania bisa merasakan kehadirannya.


Nania, bangun, Cinta? Kata-kata itu dibisikkannya berulang-ulang sambil mencium tangan, pipi dan kening istrinya yang cantik.


Ketika sepuluh hari berlalu, dan pihak keluarga mulai pesimis dan berfikir untuk pasrah, Rafli masih berjuang. Datang setiap hari ke rumah sakit, mengaji dekat Nania sambil menggenggam tangan istrinya mesra. Kadang lelaki itu membawakan buku-buku kesukaan Nania ke rumah sakit dan membacanya dengan suara pelan. Memberikan tambahan di bagian ini dan itu. Sambil tak bosan-bosannya berbisik,


Nania, bangun, Cinta? Malam-malam penantian dilewatkan Rafli dalam sujud dan permohonan. Asalkan Nania sadar, yang lain tak jadi soal. Asalkan dia bisa melihat lagi cahaya di mata kekasihnya, senyum di bibir Nania, semua yang menjadi sumber semangat bagi orang-orang di sekitarnya, bagi Rafli.


Rumah mereka tak sama tanpa kehadiran Nania. Anak-anak merindukan ibunya. Di luar itu Rafli tak memedulikan yang lain, tidak wajahnya yang lama tak bercukur, atau badannya yang semakin kurus akibat sering lupa makan.


Ia ingin melihat Nania lagi dan semua antusias perempuan itu di mata, gerak bibir, kernyitan kening, serta gerakan-gerakan kecil lain di wajahnya yang cantik. Nania sudah tidur terlalu lama.


Pada hari ketigapuluh tujuh doa Rafli terjawab. Nania sadar dan wajah penat Rafli adalah yang pertama ditangkap matanya.


Seakan telah begitu lama. Rafli menangis, menggenggam tangan Nania dan mendekapkannya ke dadanya, mengucapkan syukur berulang-ulang dengan airmata yang meleleh.


Asalkan Nania sadar, semua tak penting lagi.


Rafli membuktikan kata-kata yang diucapkannya beratus kali dalam doa. Lelaki biasa itu tak pernah lelah merawat Nania selama sebelas tahun terakhir. Memandikan dan menyuapi Nania, lalu mengantar anak-anak ke sekolah satu per satu. Setiap sore setelah pulang kantor, lelaki itu cepat-cepat menuju rumah dan menggendong Nania ke teras, melihat senja datang sambil memangku Nania seperti remaja belasan tahun yang sedang jatuh cinta.


Ketika malam Rafli mendandani Nania agar cantik sebelum tidur. Membersihkan wajah pucat perempuan cantik itu, memakaikannya gaun tidur. Ia ingin Nania selalu merasa cantik. Meski seringkali Nania mengatakan itu tak perlu. Bagaimana bisa merasa cantik dalam keadaan lumpuh?


Tapi Rafli dengan upayanya yang terus-menerus dan tak kenal lelah selalu meyakinkan Nania, membuatnya pelan-pelan percaya bahwa dialah perempuan paling cantik dan sempurna di dunia. Setidaknya di mata Rafli.


Setiap hari Minggu Rafli mengajak mereka sekeluarga jalan-jalan keluar. Selama itu pula dia selalu menyertakan Nania. Belanja, makan di restoran, nonton bioskop, rekreasi ke manapun Nania harus ikut. Anak-anak, seperti juga Rafli, melakukan hal yang sama, selalu melibatkan Nania. Begitu bertahun-tahun.


Awalnya tentu Nania sempat merasa risih dengan pandangan orang-orang di sekitarnya. Mereka semua yang menatapnya iba, lebih-lebih pada Rafli yang berkeringat mendorong kursi roda Nania ke sana kemari. Masih dengan senyum hangat di antara wajahnya yang bermanik keringat.


Lalu berangsur Nania menyadari, mereka, orang-orang yang ditemuinya di jalan, juga tetangga-tetangga, sahabat, dan teman-teman Nania tak puas hanya memberi pandangan iba, namun juga mengomentari, mengoceh, semua berbisik-bisik.


Baik banget suaminya! Lelaki lain mungkin sudah cari perempuan kedua!

Nania beruntung! Ya, memiliki seseorang yang menerima dia apa adanya.


Tidak, tidak cuma menerima apa adanya, kalian lihat bagaimana suaminya memandang penuh cinta. Sedikit pun tak pernah bermuka masam!


Bisik-bisik serupa juga lahir dari kakaknya yang tiga orang, Papa dan Mama.

Bisik-bisik yang serupa dengungan dan sempat membuat Nania makin frustrasi, merasa tak berani, merasa?


Tapi dia salah. Sangat salah. Nania menyadari itu kemudian. Orang-orang di luar mereka memang tetap berbisik-bisik, barangkali selamanya akan selalu begitu. Hanya saja, bukankah bisik-bisik itu kini berbeda bunyi?


Dari teras Nania menyaksikan anak-anaknya bermain basket dengan ayah mereka.. Sesekali perempuan itu ikut tergelak melihat kocak permainan.


Ya. Duapuluh dua tahun pernikahan. Nania menghitung-hitung semua, anak-anak yang beranjak dewasa, rumah besar yang mereka tempati, kehidupan yang lebih dari yang bisa dia syukuri. Meski tubuhnya tak berfungsi sempurna. Meski kecantikannya tak lagi sama karena usia, meski karir telah direbut takdir dari tangannya.


Waktu telah membuktikan segalanya. Cinta luar biasa dari laki-laki biasa yang tak pernah berubah, untuk Nania.

Seperti yg diceritakan oleh seorang sahabat..

- Asma Nadia -



Data Pribadi Andoyo dan Eflita Meiyetriani

Kami menyediakan informasi tentang New Zealand yang meliputi:

Hubungi kami di sini:


Your Name
Your Email Address
Subject
Message
Image Verification
captcha
Please enter the text from the image:
[ Refresh Image ] [ What's This? ]




DATA PRIBADI:

Nama lengkap:
Andoyo, S. Pd
Tempat tanggal lahir: Blora, 22 Pebruari 1983
Status: Sudah menikah (6 April 2008)
Nama Istri:
Eflita Meiyetriani, SKM
Anak: Alhamdulillah, telah lahir anak pertama kami
Kheira Alexandrina Andoyo.
Alamat: 4/19 Drummond Street Mount Cook Wellington New Zealand

Pendidikan:
SD Negeri Sumberejo Kec. Japah - Blora
SLTPN 1 Japah Blora SMKN 1 Blora
Universitas Negeri Semarang, Fakultas Teknik Jurusan Pendidikan Teknik Bangunan (2001-2006)

DATA ISTRI:
Nama:
Eflita Meiyetriani, SKM
Tempat tanggal lahir: Padang, 24 Mei 1983
Pendidikan terakhir: Sarjana Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia


Saat ini kami berdua sedang melanjutkan pendidikan di
New Zealand, Bagi teman-teman yang ingin berkomunikasi dengan saya silakan kontak saya di:

Email,
Facebook dan Frienster:
  1. andoyo_andoyo@yahoo.com
  2. andoyo_andoyo@hotmail.com
  3. andoyoandoyo@gmail.com
  4. Facebook di http://www.facebook.com.
  5. Friendster di http://www.friendster.com.
Anda juga mengunjungi website kami di:
  1. http://www.andoyoanny.com
  2. http://naked-traveling.blogspot.com
  3. http://download-cheap.blogspot.com
  4. http://selandiabaru.blogspot.com
  5. http://andoyoandoyo.multiply.com

Andoyo, Nama Cuma Satu Kata: Andoyo

Nama saya Andoyo.

Hehe..., mohon maaf pembaca. Kalau postingan kali ini agak nyleneh. Iya, kali ini memang tujuannya untuk memasarkan diri di bidang pembentukan nama. Katakanlah self marketing, tujuannya agar nama saya bisa diindek oleh search engine, Google.com misalnya. Tapi di sisi terdalamnya, adalah memahami filosofi kenapa Ibu tercinta saya memberikan nama itu.

Nama saya Andoyo, nama yang ringkas. Karena ibu saya cuma memberikan nama Andoyo, cukup Andoyo. Pernah pada saat berumur balita Ibu mengubah nama saya menjadi Winarno. Ini karena waktu itu saya suka sakit-sakitan dan suka pingsan. Sang Pencipta, Maha Tahu sehingga memberikan nikmatnya kepada Ibu saya untuk memberikan nama itu.

Nama Blog ini berasal dari kombinasi nama saya Andoyo dan Anny, panggilan saya kepada istri saya Eflita Meiyetriani. Silakan lihat Profil saya jika berkenan.

Nama Andoyo adalah nama yang mudah diingat karena simple, dan cuma terdiri dari satu kata. Andoyo berarti dorongan, motivasi, support dan sugesti. Nama yang diharapkan sosok penyandangnya menjadi seorang motivator, pendorong dan pemberi sugesti kebaikan. Ibu yang bijak, anakmua sayang padamu.

Andoyo adalah nama yang sangat berarti bagi saya. Nama yang kadang juga menjadi bahan pertanyaan orang-orang bule karena tanpa ada last name, cuma first name. Yaitu Andoyo.

Kadang-kadang saat saya mengisi beberapa formulir online yang harus mencantumkan nama first name dan family name, maka dua-duanya saya tulis satu nama yang sama sehingga kalau di baca jadi Andoyo Andoyo. Ada juga yang saya tambahkan Adi di tengahnya untuk menghubungkan nama asli saya dengan nama kecil saya, Andoyo Adi Winarno.

Istriku Sakit Flu Saat Hamil, Kasihan Dia

Sudah dua hari ini istri saya saat malam hari batuk-batuk dan bersin-bersin tidak seperti biasanya. Kasihan dia, tidurnya tidak bisa nyenyak. Hidungnya mampet, bicaranya sengau dan batuknya membuat bahunya terguncang-guncang.

Usia kehamilannya yang sekarang masuk minggu ke-9 mau tak mau membuatnya ketar-ketir. Ini kehamilan pertama kami. Tadi pagi saya lihat dia sibuk membaca beberapa artikel tentang influenza dan batuk pada saat hamil, saya pun khawatir. Saya pun memutuskan tidak berangkat ke kampus untuk mengawasi dan merawatnya. Hidungnya semakin merah karena sering bersin dan mengelap cairan yang keluar karena flu.

Istri saya tidak suka dingin. Cuaca kota Wellington yang tidak menentu selama hampir seminggu, hujan dan angin, suhu yang mencapai empat derajat celcius mau tak mau membuatnya merasa tak nyaman. Beberapa kali kami kehujanan pada saat berangkat dan pulang dari kampus. Nafsu makan yang kadang turun karena mual dan muntah pada saat hamil membuatnya sedikit lebih kurus. Untuk menghangatkan badannya kadang saya buatkan wedang jahe, meskipun tak senikmat buatan Ibu tapi mudah-mudahan bisa mengurangi rasa dinginnya.

Sebelum shalat Jum'at saya sempatkan mampir ke Pak N Save untuk membeli buah, anggur dan jeruk. Istriku menyukainya. Kehamilannya tentu membatasinya untuk mengkonsumsi berbagai obat-obatan. Buah, sayuran segar, dan daging/ayam yang bersertifikasi halal adalah pilihan yang terbaik untuk ia konsumsi.

Selamat Ulang Tahun Istriku Tercinta, Eflita Meiyetriani

Eflita Meiyetriani, nama yang dulu tidak aku perkirakan akan menjadi pendamping hidup saya. Ada banyak kejutan yang ia saya temukan darinya. Kecantikan yang mungkin tidak bisa ditemukan dengan hanya melihat sekilas, karena ia ada di dalam hatinya yang meliputi seluruh jasmani dan rohaninya.

Satu tahun lalu kami menikah, ada banyak peristiwa suka dan duka yang kami alami. Peristiwa menyenangkan yang membuat saya semakin sayang padanya dan peristiwa-periswtiwa sulit yang membuat kami harus hidup apa adanya, sedih dan sesekali berselisih paham semakin menguatkan cinta kasih kami.

Hari ini adalah hari ulang tahunnya yang ke-duapuluh enam tahun. Untuk istriku, suamimu minta maaf karena tidak bisa memberikan sesuatu sebagai hadiah. Suamimu sayang padamu, semakin sayang. Hadiah terbesar di hari ulang tahun suamimu dan ulang tahunmu adalah kehamilanmu, itu adalah karunia Allah yang sudah setahun lebih kita nantikan. Suamimu meminta maaf jika tidak bisa sebaik yang Engkau harapkan, banyak menyakitimu, tidak menuruti keinginanmu dan sesekali marah padamu.

Istri yang kusayangi, entah apa yang akan terjadi di masa mendatang kelak. Kita harus tegar menghadapi semua permasalahan bersama, semakin kuat, semakin menyayangi di masa sekarang dan sampai di hari akhir kita nanti. Suamimu ingin kita menjadi teladan kebaikan, keluarga yang sakinah, mawadah dan warrohmah.

Istriku, Selamat Ulang Tahun. Suamimu ingin menciumu dan bayi kita dengan mesra. Maukah Engkau hidup bersama dan saling menyayangi hingga akhir hayat kita nanti? Sang Pencipta tidak suka diduakan, sifat itu menurun pada hamba-Nya, padamu dan padaku.

SD Negeri Sumberejo Kecamatan Japah Kabupaten Blora

Sekolah Dasar Negeri Sumberejo Kecamatan Japah Kabupaten Blora Propinsi Jawa Tengah, ya ini adalah tempat pertama kali dimana saya sekolah. Sekolah dengan 5 kelas dan 1 ruang kantor sekaligus ruang guru ini terletak tak jauh dari pusat desa. Jalan kaki kira-kira ya sepuluh atau lima belas menit. Sekolah yang sebenarnya jauh dari peradaban perkotaan.

Sekolah dengan lapangannya yang luas, sehingga kami puas bermain. Alam yang masih asri dan jauh dari polusi. Tanpa lalu lalang kendaraan yang membahayakan kami. Sekolah yang menyenangkan.

Saya masih ingat dengan Pak Paryono almarhum, guru saya waktu kelas satu dan kelas dua. Beliau rela mengayuh sepedanya yang berjarak 6 kilometer demi untuk mengajar kami. Lalu Pak Siswanto, guru saya waktu kelas 3, dari beliaulah saya pertama kalinya diberi rangking 1 di kelas. Lalu Pak Masudji, guru kelas 4 yang galak dan juga memberi saya nilai terbaik di kelas.

Pak Djoko Suryono mungkin adalah guru saya waktu kelas 5, rumahnya yang tepat berada di depan rumah saya memaksa saya untuk belajar lebih giat. Ada banyak buku, koran dan majalah yang beliau sediakan di saat saya masih belia. Saya ucapkan terimakasih yang besar, di usia 11 tahun saya telah banyak membaca majalah dan koran yang banyak memberi saya gambaran tentang pendidikan tinggi, kuliah di luar negeri dan sebagainya. Saya masih ingat, saat itu saya suka sekali membaca majalah Intisari. Membaca tentang petualangan di alam liar Afrika dimana saat teman-teman sebaya saya tidak menyukainya, entah kapan saya mengunjunginya. Saya bersyukur karena sekarang saya berkesempatan berpetualang dari pulau ke pulau di Indonesia dan ke Selandia Baru. Terima kasih atas ilmunya yang beliau sampaikan, melalui buku dan majalah yang disediakan untuk saya baca.

Lalu Pak Kukuh, guru kelas enam. Saya ucapkan terimakasih atas pengajaran yang diberikan. Pak Soekemi (almarhum), Kepala Sekolah kami yang begitu tegas dan disiplin mengajar anak-anaknya. Beliau adalah guru produk jaman Belanda yang dengan tegas menerapkan disiplin, memotong kuku, duduk tenang saat belajar dan mengajar matematika sehingga mudah saya pahami. Pak Mustaqim, guru agama yang mengajarkan Fiqih, Hadist, dan Aqidah. Dari beliaulah saya mengenal membaca dan menulis Al Qur'an. Terima kasih kepada beliau semuanya.

Sekolah yang dulu di saat saya belajar masih belum ada Taman Kanak-Kanak-nya sekarang alhamdulillah sudah berdampingan. Mudah-mudahan bisa menjadi sekolah yang lebih baik dibanding masa saya sekolah dulu.

Desa Sumberejo, Kec. Japah Kab. Blora, Aku merindukanmu

Saya ucapkan terimakasih kepada guru-guru Sekolah Dasar kami, Pak Soekemi (almarhum) yang selalu mencambuk kami dengan sepotong lidi saat tak serius belajar, Pak Paryono (almarhum) yang berjarak 7 kilometeran dan berangkat ke sekolah dengan bersepeda, Pak Kukuh, Pak Joko, Pak Masudji, Pak Mustaqim guru agama kami, Pak Siswanto yang mengajar saya saat kelas tiga dan guru-guru muda lainnya. Saya ucapkan terimakasih yang sebesar-besarnya pada mereka.

Desa Sumberejo kecamatan Japah kabupaten Blora, rumah kami ada di sana. Setelah dua bulan berada di New Zealand saya sangat merindukannya. Sebuah desa kecil yang nyaman, jauh dari hiruk pikuk perkotaan, hutan jati yang masih menghijau, desa yang tenang. Berjarak 25 kilometer dari kota Blora, rumah saya adalah di sebuah desa yang terpencil.

Rumah berlantai tanah dan berdinding kayu, tapi kami merasa nyaman tinggal di dalamnya. Entah kapan kami bisa memperbaikinya. Hanya kamar mandi dan WC yang menjelang pernikahan saya saya buat dengan gaya yang lebih modern.

Saya bersyukur karena Allah memberikan sarana dan media bagi saya untuk menjadi spirit baru bagi kemajuan desa kami, bagi anak-anak muda yang dulu takut untuk berkuliah karena keterbatasan biaya. Kini, kami generasi muda desa kecil ini tak terlalu takut dengan hal itu. Kini, di desa kami telah muncul bibit-bibit baru Sarjana yang berawal dari ketidakmampuan dan kenekatan yang tidak malu saat harus menenteng beras untuk dibawa ke kampus saat pulang ke Sumberejo. Saya berharap mereka bisa memberikan konstribusi yang terbaik, minimal bagi diri sendiri dan orang tuanya.

Di New Zealand, Kangen Keluargakah?

Sumberejo, Japah, dan Blora. Aku merindukan mereka, merindukan Ayah dan Ibuku serta adik kecilku Wandono. Mau tak mau, kerinduan terhadap kampung halaman dan keluarga adalah hal yang harus kita tanggung saat kita berada di luar negeri.

Kakak perempuanku bilang bahwa Bapak minggu ini sedang pergi ke Ambon menemani adiknya, Pamanku, Lik Sadik. Sepertinya untuk urusan bisnis adiknya yang saat ini mulai tumbuh lagi.

Ibuku adalah seorang wanita Jawa yang lembut terhadap anak-anaknya, namun keras dalam menetapkan aturan. Ibu yang bisa mengerjakan pekerjaan multi task, kadang sebagai ayah saat Bapak sedang pergi keluar kota. Bapak lebih bersifat memberikan kebebasan pada anak-anaknya, jika menurutmu apa yang kamu lakukan benar, lakukanlah. Saya masih ingat saat Bapak marah besar dan mencambuk saya dengan cambuk rotan. Saya tak berani pulang, orang sekampung akhirnya mencari saya.

Sudah hampir 6 bulan kami tak bertatap muka dengan mereka. Mudah-mudahan saja Allah memberikan kesehatan pada mereka. Terakhir kami pergi ke sana adalah saat Lebaran 2008. Saya dari Surabaya menuju ke Semarang dan istri dari Jakarta menuju ke Semarang. Kami berdua akhirnya menginap di hotel Surya Semarang sebelum pulang ke Sumberejo Blora.

Bapak Ibu tercinta, I love them

Sumberejo, Japah, dan Blora. Aku merindukan mereka, merindukan Ayah dan Ibuku serta adik kecilku Wandono.

Kakak perempuanku bilang bahwa Bapak minggu ini sedang pergi ke Ambon menemani adiknya, Pamanku, Lik Sadik. Sepertinya untuk urusan bisnis adiknya yang saat ini mulai tumbuh lagi.

Ibuku adalah seorang wanita Jawa yang lembut terhadap anak-anaknya, namun keras dalam menetapkan aturan. Ibu yang bisa mengerjakan pekerjaan multi task, kadang sebagai ayah saat Bapak sedang pergi keluar kota. Bapak lebih bersifat memberikan kebebasan pada anak-anaknya, jika menurutmu apa yang kamu lakukan benar, lakukanlah. Saya masih ingat saat Bapak marah besar dan mencambuk saya dengan cambuk rotan. Saya tak berani pulang, orang sekampung akhirnya mencari saya.

Sudah hampir 6 bulan kami tak bertatap muka dengan mereka. Mudah-mudahan saja Allah memberikan kesehatan pada mereka. Terakhir kami pergi ke sana adalah saat Lebaran 2008. Saya dari Surabaya menuju ke Semarang dan istri dari Jakarta menuju ke Semarang. Kami berdua akhirnya menginap di hotel Surya Semarang sebelum pulang ke Sumberejo Blora.

Desa Sumberejo, Kec. Japah Kab. Blora, Aku merindukanmu

Saya ucapkan terimakasih kepada guru-guru Sekolah Dasar kami, Pak Soekemi (almarhum) yang selalu mencambuk kami dengan sepotong lidi saat tak serius belajar, Pak Paryono (almarhum) yang berjarak 7 kilometeran dan berangkat ke sekolah dengan bersepeda, Pak Kukuh, Pak Joko, Pak Masudji, Pak Mustaqim guru agama kami, Pak Siswanto yang mengajar saya saat kelas tiga dan guru-guru muda lainnya. Saya ucapkan terimakasih yang sebesar-besarnya pada mereka.

Desa Sumberejo kecamatan Japah kabupaten Blora, rumah kami ada di sana. Setelah dua bulan berada di New Zealand saya sangat merindukannya. Sebuah desa kecil yang nyaman, jauh dari hiruk pikuk perkotaan, hutan jati yang masih menghijau, desa yang tenang. Berjarak 25 kilometer dari kota Blora, rumah saya adalah di sebuah desa yang terpencil.

Rumah berlantai tanah dan berdinding kayu, tapi kami merasa nyaman tinggal di dalamnya. Entah kapan kami bisa memperbaikinya. Hanya kamar mandi dan WC yang menjelang pernikahan saya saya buat dengan gaya yang lebih modern.

Saya bersyukur karena Allah memberikan sarana dan media bagi saya untuk menjadi spirit baru bagi kemajuan desa kami, bagi anak-anak muda yang dulu takut untuk berkuliah karena keterbatasan biaya. Kini, kami generasi muda desa kecil ini tak terlalu takut dengan hal itu. Kini, di desa kami telah muncul bibit-bibit baru Sarjana yang berawal dari ketidakmampuan dan kenekatan yang tidak malu saat harus menenteng beras untuk dibawa ke kampus saat pulang ke Sumberejo. Saya berharap mereka bisa memberikan konstribusi yang terbaik, minimal bagi diri sendiri dan orang tuanya.