Tampilkan postingan dengan label Wellington New Zealand. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Wellington New Zealand. Tampilkan semua postingan

Persyaratan untuk memperoleh visa di New Zealand

Dinas Imigrasi Selandia Baru, dikenal sebagai Department of Labour (Departemen Tenaga Kerja) ialah kuasa pemerintah yang bertanggung jawab atas pemberian visa dan izin untuk memasuki Selandia Baru. Dinas Imigrasi membuka cabang-cabang di seluruh dunia.
Belajar di Selandia Baru sebagai pengunjung

Bila Anda berada di Selandia Baru sebagai pengunjung atau tamu biasa, Anda boleh mengikuti satu kursus yang masa studinya kurang dari 3 bulan tanpa memerlukan izin belajar. Bila Anda ingin mengambil lebih dari satu kursus, dan/atau program studi lain yang masa belajarnya lebih dari 3 bulan, Anda dapat mengajukan permohonan untuk surat izin belajar sementara Anda ada di sini.

Pergi ke Selandia Baru untuk belajar

Bila Anda berada di luar Selandia Baru dan merencanakan untuk belajar penuh waktu selama lebih dari 3 bulan, Anda memerlukan visa belajar dan surat izin belajar, kecuali bila negara Anda mempunyai persetujuan khusus dengan Selandia Baru.

Persyaratan mengajukan permohonan

Untuk memperoleh izin dan visa belajar Anda harus terdaftar di sebuah kursus yang terakreditasi pada suatu lembaga yang telah diakreditasi untuk menawarkan kursus itu. Untuk permohonan Anda, Anda memerlukan:

  • sebuah pasfoto yang baru dibuat
  • pembayaran biaya pelamaran yang tidak dapat dikembalikan
  • tawaran tempat dari sebuah lembaga pendidikan, yang menyatakan bahwa Anda telah diterima oleh lembaga, nama kursus yang Anda ikuti, waktu minimum yang diperlukan untuk menyelesaikan kursus itu, dan apakah biaya kursus harus dibayar atau apakah pelajar dibebaskan dari biaya (misalnya, mahasiswa berbeasiswa). Bahan ini akan dikirimkan kepada Anda oleh lembaga yang mengkonfirmasi pendaftaran Anda.
  • bukti pembayaran biaya atau pembebasan dari biaya (tidak perlu bila permohonan Anda sedang disetujui secara prinsip)
  • surat jaminan tertulis dari lembaga atau perorangan bahwa akomodasi yang cocok tersedia bagi Anda di Selandia Baru
  • bukti tentang cukupnya biaya untuk hidup sementara Anda belajar
  • sebuah tiket pesawat udara untuk kembali ke negara Anda, atau bukti adanya cukup dana untuk membeli tiket

Paspor yang berlaku

Bila permohonan Anda disetujui, paspor Anda harus berlaku selama 3 bulan setelah tanggal yang direncanakan untuk keberangkatan Anda dari Selandia Baru.

Pemeriksaan Kesehatan

Untuk program studi yang berlangsung lebih dari 24 bulan, Anda juga memerlukan keterangan medis dan ronsen yang diambil dalam waktu tiga bulan terakhir. Bila Anda berumur lebih dari 17 tahun, Anda juga memerlukan surat keterangan polisi yang menerangkan bahwa Anda berkelakuan baik.

Skrining untuk tuberculosis

Orang-orang yang mengajukan permohonan untuk visa atau izin belajar yang berniat tinggal lebih lama dari 6 bulan di Selandia Baru harus diskrin untuk tuberculosis (TBC) bila mereka:

  • BELUM PERNAH sebelumnya menyerahkan hasil tes skrining medis penuh kepada Dinas Imigrasi Selandia Baru, dan
  • tidak memiliki paspor dari salah satu negara dengan risiko rendah TBC yang telah diidentifikasi (lihat di bawah), atau
  • telah menghabiskan waktu (menetap dan/atau bertamu) total sebanyak 3 bulan atau lebih (dalam masa 5 tahun sebelum mengajukan permohonan) di negara yang TIDAK diidentifikasi sebagai negara risiko rendah TBC (lihat di bawah).

Misalnya, bila Anda mempunyai paspor Inggris, dan, pada suatu waktu di dalam waktu 5 tahun sebelum mengajukan permohonan, Anda berada 5 minggu di Thailand dan 7 minggu di Fiji, Anda perlu menjalani pemeriksaan skrining TBC. Hal ini tidak berlaku bagi wanita-wanita hamil dan anak-anak di bawah umur 12.
Hal-hal yang harus Anda lakukan

  • Buatlah janji temu untuk berkunjung kepada seorang dokter untuk meminta rujukan kepada seorang radiologis untuk pemeriksaan sinar–X untuk dada Anda.
  • Bawa serta Sertifikat Sinar-X untuk Masuk Sementara (Formulir NZIS 1096) ke radiologis
  • Bila Anda menyerahkan formulir permohonan Anda, lampirkan Sertifikat Sinar-X Masuk Sementara yang telah diisi dan pelat sinar-X dada Anda.
Disarikan dari http://www.newzealandeducated.com

Kuliah dan Kerja Part Time di New Zealand

Ada sebuah email masuk ke email kami berisi hal ini.


Saya rencananya akan ke New Zealand dengan visa student dengan modal dana pas-pasan. Ada yang saya mau tanyakan apakah mencari pekerjaan sambil kuliah mudah didapat di Auckland, part time misalnya, cara mendapatkan kerjaan part time dan perjamnya berapa? dibayar setelah abis kerja atau bagaimana? apakah selalu ada kerjaan part time? penghasilan part time bisa buat hidup disana? terima kasih untuk infonya.


Kuliah sembari kerja part time di New Zealand? Mungkin ga?

Pertanyaan ini sering kali diajukan oleh para siswa dari Indonesia yang ingin berkuliah dan bekerja paruh waktu. Jawabannya adalah sangat mungkin.

Wellington vs Auckland

Bagi Anda yang memutuskan untuk berkuliah sembari bekerja part time di New Zealand, maka saya lebih merekomendasikan Anda mengambil di Wellington saja. Hal ini karena iklim kota yang bukan hanya lebih kondusif untuk Anda belajar, namun juga peluang kerja part time yang lebih baik dan gaji yang lebih memadai.

Cara Mendapatkan kerja part time?

Hal ini tidak berbeda jauh dengan ketika kita mencari kerja di Indonesia. Yang perlu kita lakukan adalah dengan berkeliling secara langsung di kota untuk melihat ada tidaknya lowongan kerja yang pada umumnya ditempel di depan kantor/kafe/restoran dsb jika memang ada pekerjaan yang tersedia.

Anda dapat mencari informasi lowongan kerja di www.trademe.co.nz atau www.seek.co.nz.

Membuat CV dan surat lamaran pekerjaan juga harus sesuai dengan gaya New Zealand, ringkas, padat dan jelas.

Gaji per-hour status student berapa ya?

Basic gaji minimal untuk student yang bekerja part time adalah NZ$12.50 belum potong pajak. Gaji biasanya dibayarkan perminggu. Secara umum student hanya diijinkan bekerja part time dengan batasan waktu maksimal 20 jam. Meskipun ada juga siswa yang bekerja lebih dari itu, tapi konsekuensi kuliah tidak boleh keteteran.

Jika hanya untuk biaya hidup sehari-hari, bisa dikatakan cukup dari hasil kerja part time tersebut. Karena pada kenyataannya tergantung dari pola hidup masing-masing orang.


Untuk Kuliah Level Diploma di New Zealand, Bisakah Keluarga Ikut?

Ini pertanyaan yang sering banget muncul di form contact us website ini. Bisakah istri saya ikut saya selama saya kuliah di Selandia Baru? Bisakah istri mendapatkan pekerjaan part time? Bagaimana dengan pendidikan anak? Dan sebagainya

Untuk menjawabnya, ada beberapa opsi yang bisa Anda pilih. Meskipun sebenarnya agak membingungkan juga. Ini karena mood dari petugas imigrasi New Zealand kadang berbeda-beda.

Secara umum sebenarnya keluarga bisa-bisa saja ikut. Tapi saya sarankan Anda mempersiapkan biaya yang signifikan untuk hal ini. Jika Anda kuliah S3 maka hal itu tidak akan terlalu menjadi masalah.

Lalu bagaimana untuk level Diploma dan S1? Dalam kebijakannya pemerintah New Zealand memang hanya menjamin keluarga dari mahasiswa yang sedang kuliah di New Zealand untuk level S3, biaya hidup dan pendidikan yang lebih murah. Ini artinya jika Anda kuliah untuk level S1 ke bawah maka anak dan istri harus hidup dengan biaya Anda pribadi.

Beberapa kasus juga terjadi pada keluarga yang suaminya kuliah di bawah level S1, istri bisa bekerja part time dengan ijin kerja tentunya. Istri juga bisa sembari belajar atau kursus bahasa Inggris. Jika istri sembari belajar maka istri dapat bekerja part time dengan menggunakan VOC yang didapatkan.

Film Avatar ternyata dibuat di New Zealand

Anda mungkin pernah menonton film Avatar. Film animasi yang mendekati sempurna dan tampak benar-benar hidup ini ternyata proses produksinya lebih banyak dikerjakan di New Zealand loh.

Mau lihat, buka website ini nih... Giant Studios adalah sebuah studio yang cukup besar di mana salah satu cabangnya ada di Wellington.

Ya memang benar, di New Zealand lulusan-lulusan Politeknik dan universitasnya cukup bisa diandalkan dalam menghasilkan sebuah karya seni yang berbobot. Film Lord of The Ring adalah salah satu film terkenal yang layak Anda tonton.

Saya sempat mengenyam pendidikan politeknik di New Zealand (Natcoll Design Technology). Meskipun hanya singkat, tapi memang banyak mengubah keterampilan dan skill yang saya miliki. Sistem pendidikan yang berbasis praktek secara langsung dan bukan hanya teori memberikan dampak yang sangat berbeda dengan sistem pendidikan di Indonesia.

Keberanian dan kebebasan pengajar untuk memberikan siswanya berkreasi, proses evaluasi konsep desain yang cukup kritis dan ketat memberikan hasil yang lebih baik.

Mau kuliah di New Zealand? Tiga lembaga pendidikan di bawah ini bekerja sama dengan www.andoyoanny.com. Kalau mau daftar silakan klik linknya.

Jika kurang jelas, silakan kontak di link ini.

Courtenay Place, Ini Nih Patung Tripod Unik Dekat Kampusku Dulu


Courtenay Place Wellington, waah rugi deh kalau ga ke sini pas berkunjung ke Wellington. Tempat ini adalah tempat asyik untuk nongkrong dan kongkow baik siang maupun malam. Apalagi kalau pas lagi ada matahari.

Courtenay Place sebenarnya adalah nama jalan di kota kecil Wellington. Ada banyak pilihan hotel dan backpacker di sekitar sana, hotel murah, restoran dan cafe, souvenir shop, apartmen dan tempat beli alat-alat elekronik juga.

Ada Reading Cinema, tempat makan dan sekaligus bioskop. Lalu didekat sana ada Embassy Cinema juga yang sering digunakan untuk perhelatan setiap promosi film yang disutradarai oleh Peter Jackson dan masih banyak lagi. Oh iya, ada juga St James Theater bagi kita yang masih suka dengan pertunjukkan teater.

Ada sebuah semacam monumen atau patung di area ini berbentuk segitiga (tripod) yang unik. Patung ini terbuat dari logam yang cukup unik. Lihat fotonya aja deh biar lebih jelas yah...

Sebenarnya saya ada foto koleksi sendiri, tapi karena saat posting lagi ga di rumah jadi saya pinjam fotonya dari rekan blog saya di http://blandforddailyphoto.blogspot.com/2008/01/meet-under-tripod-229.html.

Tempat Wisata di Wellington, New Zealand

Wellington...yeeee.., kota Wellington adalah ibu kota New Zealand. Kota yang khas dengan tiupan anginnya yang kencang, empat musim yang terjadi dalam waktu satu hari dan kota kecil yang cukup menyenangkan untuk di tinggali. Kota Wellington yang memiliki sembiyan Absolutely Positively Wellington ini menyediakan banyak tempat untuk hang out, dari yang gratisan sampai yang bayar raturan dolar.


Kota kecil ini sangat cocok bagi Anda yang ingin melanjutkan pendidikan. Selain akses yang mudah, kota ini juga menjadi salah satu kota teraman di New Zealand. Jadi tidak terlalu khawatir saat kita harus pulang malam karena mengerjakan tugas.

Kalau kita berkunjung ke Wellington, ada beberapa tempat wisata menarik yang saya sarankan untuk dikunjungi. Ada beberapa opsi yang bisa Anda pilih, tempat wisata yang berbasis alam dan budaya. Berikut ini adalah beberapa alternatif yang bisa Anda kunjungi.

Te Papa Museum


Museum ini memiliki koleksi yang lumayan lengkap. Dari sejarah tentang New Zealand, kebudayaan Maori, koleksi fosil hewan dan tumbuhan, simulasi gempa, media interaktif dan masih banyak lagi. Salah satu yang menarik perhatian adalah keberadaan cumi-cumi raksasa.

Botanic Garden


Ini adalah tempat wisata berbasis alam. Di thttp://www.blogger.com/img/blank.gifempat ini kita bisa juga mencoba naik cable car yang harga tiketnya sekitar 4 dolar. Musim summer adalah masa-masa yang cocok untuk kita berkunjung ke sini. Bukan hanya karena panasnya yang tidak terlalu menyengat, tapi juga karena banyak sekali bunga yang sedang bermekaran. Anda bisa melihat salah satu video yang lokasinya banyak di ambil di Botanic Garden ini. Silakan klik video itu di sini.


Karori Sanctuary


Untuk ke kita bisa naik bis nomer 3 dari kota Wellington. Perjalanan dengan bis sekitar 20 menitan, lalu jalan kaki sekitar 1 kilometeran. Di sini untuk tour siang hari kita harus membayar 14 dolar, kalau malam sekitar 60 dolar. Malam lebih mahal karena kita bisa berkesempatan melihat burung Kiwi.

Cuba Street dan Manners Mall

Ini adalah pusat lalu lintas para pedestrian di kota Wellington. Anda juga bisa mengunjungi are perbelanjaan Lambton Quay. Cukup dekat kok, dari Cuba Street lalu belok kiri ke Manners Street lalu belok kanan di Lambton Quay. Musim panas adalah masa-masa yang menyenangkan untuk berjalan kaki di area ini. Kita akan menjumpai atraksi jalanan di area ini.

Oke begitu dulu yaa...Nanti kita sambung lagi. Jika Anda ingin mengunjungi kota Wellington, silakan jangan ragu-ragu untuk berjumpa dengan saya. Terimakasih

Permulaan Winter, Hujan Hail di Wellington New Zealand

Cuaca semakin tak menentu di Wellington. Beberapa hari ini, saat menjelang libur perayaan The Queen Day yang jatuh pada hari Senin 1 Juni 2009, cuaca semakin menggila. Hari Minggu, 31 Mei 2009 kemarin turun hail (semacam hujan butiran es di Indonesia). Meskipun tidak banyak tapi cuaca hari itu terasa sangat dingin.

Cuaca di Wellington memang sangat tidak menyenangkan, sehari bisa terjadi empat musim sekaligus. Malam yang dingin membuat badan menggigil, pagi yang sedikit dingin dan siang yang terasa panas (meskipun suhunya ga lebih dari 15 derajat celcius). Lalu sore hujan dengan angin dingin yang membuat kami bergegas masuk ke dalam flat, masih dingin juga.

Perkiraan cuaca di sini juga biasanya mencantumkan Wind Chill, sebutan umum untuk angin yang membuat kita terasa lebih dingin dari suhu sebenarnya. Bisa jadi suhu asli tanpa angin adalah 11 derajat celcius, tapi karena tiupan angin selatan dari kutub selatan membuat suhu seakan di bawah 2 derajat celcius.

Saran saya, kalau kondisi kayak gini. Pakailah baju hangat beberapa lapis, kaus kaki panjang, sarung tangan dan rain coat kalau Anda ingin keluar dari tempat tinggal untuk pergi jalan-jalan atau berbelanja dan beraktivitas. Beberapa teman saya yang biasa hidup di negara yang suhunya di bawah minus sering mengatakan bahwa Wellington terasa lebih dingin dari negara mereka, itu karena Wind Chill yang bertiup kencang dan masuk ke badan kita.

The Karori Sanctuary, Wellington

The Karori Sanctuary offer an opportunity to see New Zealand's rarest animal dan wildlife in its natural environment. Tucked away in a forrest-clad valley just ten minutes from Central Wellington. We can go there by hire a car or by cable car.

By bus is the cheapest choice, we can buy the day tripper ticket with five dollars New Zealand. Day tripper ticket is designed to give us freedom to go around Wellington by using one ticket. In every bus station we will able to get off and caught bus anywhere that we want by show the ticket to the driver.

The Karori Sanctuary is the place to protect original New Zealand wildlife. Kiwi is one of them. Tour provide us encounters with birds and reptiles normally just found on offshore island, and a chance to learn about unique vision to turn back the clock to the time before humans arrived.


Walking track is include a cruise accros the lower lake and change to look New Zealand's living dinosaur the Tuatara. The best time to running the tour is when darkness has settled, if we lucky we can see the New Zealand's national mascot, that is Kiwi. Over 100 Kiwi live in this park, so there is a good change of spotting one.


There are differences of price between day and night tours. We can go there in day time and the ticket to enter there only NZ$ 14, but in the night we have to pay more, Nz$ 60 to see Kiwi birds.

The Wellington Cable Car Museum

The Cable Car is another of a series of sculptures crowning sculptural signs in the city. All the signs feature Wellington street maps and show the way to nearby attractions.

The Cable Car provides a unique form of transport to the city to the suburb of Kelburn and the top of the Botanic Garden. We are situated at the end of the Cable Car Lane off Lambton Quay in the heart of Wellington's Central Business District.

There are three intermediate stops. Clifton, leading to the Terrace and the Student Accommodation at Everton Hall. Talavera, the mid point of the track, where the cars pass each other. Salamanca, linking to the Victoria University and more student accommodation at Weir House.

The Wellington Cable Car Museum is located just a few metres from the cable car's upper terminus and from a lookout with spectacular views over Wellington, this museum tells the story of the country's only remaining public cable car system.

Visit us to catch up on the service's colourful history, marvel at the machinery in the old winding room or climb aboard one of the old grip cars.

The museum shop stocks a great selection of Wellington and New Zealand gifts and souvenirs as well as a range of specialist transport books, DVDs and models.

The Wellington Cable Car Museum has Qualmark endorsed visitor activity status and was the 2006 Tourism Industry award winner for visitor activities and attractions: culture and heritage tourism.

Source http://blandforddailyphoto.blogspot.com

The Mount Victoria Tunnel in Wellington

The Mount Victoria Tunnel in Wellington is well known in Wellington as being the location of "the beeping game", in which motorists sound their horns as they go through the tunnel, often in response to the tooting of other drivers. This is particularly popular after 5pm on Friday nights. The white building above the tunnel is Wellington East Girls’ College..

The tunnel is 623 metres (slightly more than a third of a mile) long and 5 metres (16.4 ft) in height, connecting Hataitai to the centre of Wellington and the suburb of Mount Victoria, under the mount of the same name. It is part of State Highway 1.

The tunnel was built in 15 months by the Hansford and Mills Construction Company. The project cost around £132,000 and greatly reduced travel time between the Eastern Suburbs and the central business district of Wellington. Construction employed a standard tunnel-excavation technique in which two teams of diggers begin on either side of the obstacle to be tunnelled through, eventually meeting in the centre.

The initial breakthrough, when the two separate teams of diggers met, occurred at 2.30pm on 31 May 1930, and the first people to pass through the breakthrough were tunnellers Philip Gilbert and Alfred Graham. The tunnel was opened officially by the mayor of Wellington, Thomas Charles Hislop, on 12 October 1931.

Although the tunnel has been eclipsed in terms of features and amenities by more recent tunnels around the country, such as the Terrace Motorway Tunnel, the Mount Victoria Tunnel was the first road tunnel in New Zealand to be mechanically ventilated. Around 32,000 vehicles pass through it each day. The tunnel also accommodates pedestrians and cyclists, who use an elevated ramp on the north side of the roadway. In the late 1970s, a number of crime incidents resulted in an alarm system being installed based on buttons spaced along the length of the pedestrian ramp - the system was removed several years later, as it proved ineffective. Recent additions include new lighting, CCTV cameras, brighter cleanable side panels and pollution control. These have significantly improved safety in the tunnel.

There has been a long standing designation for a second parallel tunnel to the north, in order to relieve peak period congestion resulting from lane merges at both ends of the tunnel. A pilot tunnel was bored through in 1974 to investigate the technical feasibility and still exists, although the eastern end has been bricked up and the western end lies on private property. Plans to build the second tunnel paralleled the original plan to complete the Wellington Urban Motorway to the tunnel to provide a motorway bypass of the whole of central Wellington. The second tunnel component was shelved indefinitely in 1981 when budget cuts meant that a scaled-down motorway extension was proposed that would terminate at the existing tunnel.

The tunnel currently is a traffic bottleneck in the morning peak from around 7.30 to 9.00am on the Hataitai side with traffic sometimes backing up over 1 km and in the afternoon peak between 5 and 6pm on the city side with queuing back around 0.5 km. Buses to the eastern suburbs bypass this congestion by using the much older single-lane Hataitai bus tunnel.

Some interesting stuff

During World War II, the government planned to use the tunnel as an air raid shelter if Wellington were attacked. However, the plan was scrapped as the tunnel was thought to be too vulnerable to assault from either side by hostile troops.

A murder occurred during the construction of the tunnel. A young woman named Phylis Simons was murdered by her lover, who buried her in the fill from the tunnel. Police ordered workers to excavate the fill in order to find the victim's body.

Source http://blandforddailyphoto.blogspot.com

Wellington, Four Seasons in One Day

Wellington is very unique city. It is known as "Windy City", because the wind blows strongly and every time. The weather also terrible, four seasons can happen in one day, winter, summer, spring and autumn. Very cold at the night, little bit cold in the morning, hot and sunny at noon and very shower or heavy rain in the evening.


We have to read the weather forecast every day that is published in newspapers, website and telephone. The forecast usually is provided for two or three days. We can use the forecast if we want to arrange activities.

In spring season, summer and autumn are the most interesting season in Wellington. Most of the restaurants, cafes, accommodation agents also offered open space to service the customers. The Cuba Street and and The Courtenay Place are the busy places in summer. There are many tourists and citizens spend much money in both of the places.

In winter, open spaces are not too busy. Many people do not like spend their time outside the restaurants and cafes. They will choose inside them to enjoy their lunch or dinner inside because it is warmer and more comfortable than outside.

However, some restaurants and cafes provide heaters outside in the open space. They install heater outside to service the customer if inside very full and busy. Wearing warm clothes and jackets are the most important thing to eat our dinner outside the restaurant or cafe.


Hamil di New Zealand, Gimana Nih? Pelayanan Kesehatan Kehamilan di New Zealand Gimana?

Alhamdulillah, setelah setahun menunggu akhirnya Allah memberikan kepercayaan kepada kami untuk mengasuh anak. Istri saya saat ini sedang hamil muda. Dia lagi manja-manjanya dan muntah hampir setiap malam. Kota Wellington yang dingin kadang memperparah kondisi itu.

Lalu bagaimanakah pelayanan kesehatan untuk kehamilan dan secara umum di New Zealand? Menurut saya adalah very-very worst, sangat buruk dan lambat. Lalu kenapa mereka masuk dalam jajaran negara yang sehat? Menurut saya karena pelayanan kesehatan yang buruk inilah yang membuat orang malas berkunjung ke dokter atau klinik sehingga laporan orang sakit tidak setinggi di Indonesia. Akhirnya data orang sakit yang masuk ke Depkes-nya New Zealand jumlahnya sedikit.

Seburuk apapun di Indonesia kita dengan mudah bisa mendapatkan akses pelayanan kesehatan misalnya di Puskesmas, dokter umum atau klinik-klinik yang terdekat dengan tempat bermukim kita. Tanpa memandang apakah Anda warga asli atau pendatang, harga juga tak terlalu beda jauh.

Lalu bagaimana dengan di New Zealand? Berikut ini saya jelaskan berurutan:

  1. Pertama Anda datang ke GP (General Practisioner), atau katakanlah Puskesmas kalau di Indonesia Anda harus registrasi dulu dan menunggu selama dua minggu untuk proses pendaftaran, padahal saat kita mendaftar itu benar-benar sedang sakit.
  2. Setelah dua minggu approved by GP, baru mereka membuat appointment untuk bertemu dengan dokter, bisa jadi kalau Anda beruntung Anda bisa langsung ketemu dokter hari itu, tapi kalau tidak siap-siaplah ketemu dokter 5 hari sesudahnya. Inilah yang istri saya alami saat mau memeriksakan kehamilan.
  3. Habis ketemu dokter, baru mereka memberikan nomor telepon/kontak untuk Bidan/Midwife yang bisa kita hubungi untuk menangani kehamilan. Lagi-lagi harus appointment dulu dengan mereka melalui telepon atau datang langsung ke kliniknya.
  4. Pemeriksaan dokter kebanyakan tidak sedetail dokter-dokter di Indonesia, jarang diberi obat, seringnya vitamin saja. Pada beberapa kasus sakit apapun diberi obat yang sama, yaitu Panadol.
  5. Pemeriksaan kehamilan di sini sangat njelimet dan rumit, selain itu jika Anda bukan warga asli sini atau pendatang dengan Student Visa kurang dari dua tahun jangan harap dapat biaya murah.
Jadi, secara umum saya menganggap pelayanan kesehatan di New Zealand tak sebaik di negara kita Indonesia. Akses secara langsung bisa Anda dapatkan tanpa melalui prosedural yang njelimet dan berbelit-belit, biaya pun hampir sama biarpun Anda warga pendatang atau bukan.

Di New Zealand, Kangen Keluargakah?

Sumberejo, Japah, dan Blora. Aku merindukan mereka, merindukan Ayah dan Ibuku serta adik kecilku Wandono. Mau tak mau, kerinduan terhadap kampung halaman dan keluarga adalah hal yang harus kita tanggung saat kita berada di luar negeri.

Kakak perempuanku bilang bahwa Bapak minggu ini sedang pergi ke Ambon menemani adiknya, Pamanku, Lik Sadik. Sepertinya untuk urusan bisnis adiknya yang saat ini mulai tumbuh lagi.

Ibuku adalah seorang wanita Jawa yang lembut terhadap anak-anaknya, namun keras dalam menetapkan aturan. Ibu yang bisa mengerjakan pekerjaan multi task, kadang sebagai ayah saat Bapak sedang pergi keluar kota. Bapak lebih bersifat memberikan kebebasan pada anak-anaknya, jika menurutmu apa yang kamu lakukan benar, lakukanlah. Saya masih ingat saat Bapak marah besar dan mencambuk saya dengan cambuk rotan. Saya tak berani pulang, orang sekampung akhirnya mencari saya.

Sudah hampir 6 bulan kami tak bertatap muka dengan mereka. Mudah-mudahan saja Allah memberikan kesehatan pada mereka. Terakhir kami pergi ke sana adalah saat Lebaran 2008. Saya dari Surabaya menuju ke Semarang dan istri dari Jakarta menuju ke Semarang. Kami berdua akhirnya menginap di hotel Surya Semarang sebelum pulang ke Sumberejo Blora.

Pak n Save, Salah Satu Tempat Belanja Murah Keperluan Sehari-hari

Pak n Save Kilbirnie, ini tempat belanja yang masuk dalam kategori murah di Wellington, Selandia Baru. Terletak sekitar 20 menit naik bis dari kota Wellington, di daerah Sub urban Kilbirnie dan tidak jauh dari bandara.


Saya biasanya belanja ke sana sebelum atau sesudah habis shalat Jum'at di Masjid Kilbirnie. Beberapa memang lebih mahal, tapi yang jelas kebanyakan lebih murah.

Beberapa barang belanjaan yang murah adalah sayuran, bumbu-bumbu semacam bawang merah dan bawang putih, buah-buahan, dan juz buah. Harga detergen, alat-alat mandi (sabun, pasta gigi, sampho) biasanya juga lebih murah jika dibeli di sini.

Saya tidak menyarankan Anda belanja ke sini setiap hari jika tempat tinggal Anda berada dalam kota Wellington. Soalnya saya sendiri juga cuma pada hari Jum'at, soalnya sekalian sholat Jum'at.

Halal Butcher Wellington New Zealand ada ga ya?

Halal dan haram, ini adalah dua sisi mata uang yang tidak bisa kita pisahkan jika kita hidup di negara yang notabene penduduknya bukan pemeluk agama Islam. Begitu pun yang saya rasakan di Selandia Baru. Dalam hal ini termasuk masalah daging, halal atau haram?


Halal, adalah wajib hukumnya bagi seorang muslim, termasuk dalam hal makan.

Di kota Wellington, sebenarnya ada beberapa butcher (tukang potong hewan) yang bersertifikasi halal. Hanya saja yang saya tahu baru di sub urban Kilbirnie dan Newtown. Kalau yang Kilbirnie ini jelas, karena banyak warga keturunan Arab di daerah ini. Halal Bucther di Newtown adalah yang paling sering saya kunjungi, soalnya dekat sama flat saya, sekitar 10 menit jalan kaki.

Terletak di Riddiford Street, tidak jauh dari Wellington Hospital. Jalan kaki dari rumah sakit ini sekitar 2 menitan paling juga sampai. Harganya rata-rata juga lumayan lebih murah jika kita bandingkan beli di New World, salah satu toserba yang ada di Selandia Baru.

Berkunjung ke Karori Sanctuary, Nyesel Ga?





Hari Jum'at tanggal 10 April 2009, saya bersama istri berkunjung ke Karori Sanctuary. Sekitar 10 menit jalan kaki dari Karori Parks. Menjelang jam 10 pagi saya berangkat bersama istri. Berangkat dari flat menuju Sanctuary menggunakan ticket Day Tripper bis Go Wellington seharga NZ $5/passenger.


Ticket day tripper ini memungkinkan kita naik bis seharian bolak-balik keliling Wellington dengan hanya sekali saja. Jadi kalau Anda mau jalan-jalan murah keliling Wellington dan pantat sampai tepos seharian karena duduk di bis, pakailah Day Triper. Mau turun dan naik dimanapun oke saja.

Tidak lupa bawa bekal makanan khas Indonesia, yaitu nasi. Hehe... Bagaimana pun juga perut saya masih made in Indonesia. Baru tiga bulan di New Zealand makan roti seporsi orang-orang Kiwis yang badannya segedhe kulkas juga tidak cukup bagi saya. Setelah dua atau tiga jam makan roti, perut saya langsung merengek-rengek. Mana nasinya? Hik...hik.., begitu juga istri saya.

Jarak Karori Park menuju Karori Sanctuary sebenarnya tidak terlalu jauh, sekitar 10 menit jalan kaki. Jangan khawatir, udaranya bersih kok.

Pemandangan pertama kami di sambut sebuah banner biru gedhe bertuliskan Sanctuary, kami sempatkan ambil foto di sana beberapa kali. Lalu masuk ke bagian ticket masuk, harganya NZ $14/visitors, kalau malam NZ $60. Kalau dirupiahin sekitar Rp. 94.000 dan Rp. 360.000. Mahal banget untuk ukuran orang Indonesia, tapi bagi Kiwis (sebutan untuk orang New Zealand) itu murah.

Karori Sanctuary sebenarnya adalah taman nasional yang dikelola oleh pemerintah Selandia Baru untuk melindungi burung-burung langka species asli Selandia Baru, utamanya burung Kiwi dan beberapa burung lainnya. Di taman ini juga tersedia pemandangan danau, dam (reservoir air minum untuk kota Wellington), dan jalur trek bagi yang suka hiking.

Hanya beberapa burung yang kami jumpai di sini, kecuali burung Kiwi. Soalnya burung Kiwi keluarnya kalau malam saja, saya gak kuat beli ticketnya. Hehe...

Bagus ga sih Karori Sanctuary? Eem..., kalau Anda tinggalnya dari kecil sampai gedhe di kota saya merekomendasikan kepada Anda untuk mengunjunginya. Tapi kalau Anda asli ndeso, yang besar di kampung dengan hutan yang masih terawat saya sarankan jangan datang ke sini. Hehe..., kenapa? Soalnya kalau saya bandingkan dengan hutan di desa saya di Sumberejo, jelas masih bagusan Sumberejo.

The Weta Cave and Lord of The Ring

Wellington was Production Central for the making of The Lord of the Rings movie trilogy. Weta Cave is one of the place that was used as Wellington City film location and spellbound by the creative genius at the Weta Cafe.

Stunning views of the harbour and Wellington city from the top of Mount Victoria and the first filming location site used in the Lord of the Rings film trilogy.

Visit Weta Cave in Miramar and take a video tour of Weta. Weta workshop and Weta digital created special effect for the Lord of the Rings trilogy and many other movies.

Sources: www.lordoftheringstour.co.nz

Akhirnya, Kutemukan Cabe Impianku

Duhh...hati saya rasanya berbunga-bunga karena si Deddy teman saya kasih tahu ke saya kalau ada cabe di Wellington yang harganya lumayan murah dan pedasnya mantap. Akhirnya habis pulang kuliah saya bersama istri berkunjung ke toko yang direkomendasikan sama si Deddy yaitu sebuah minimarket milik orang China.

Minimarket milik orang China itu berada di Dixon Street, dekat dengan Cuba Street dan Manners Mall serta segaris dengan Courtenay Place. Setelah ngubek-ngubek isi toko hampir 3 menitan saya dan istri menemukan cabe impian kami. Huff..., lega rasanya. Soalnya kami berdua malu, orang masuk ke toko kok cuma cari cabe, seharga NZ$ 4,99 lagi.

Bicara tentang cabe, di Wellington pada khususnya dan di New Zealand pada umumnya, cabe adalah barang mahal. Soalnya orang Kiwi juga nggak suka makanan pedas-pedas, paling hanya orang Asia saja yang hobi makan pedas. Lada hitam saja tak akan cukup untuk memuaskan rasa pedas dambaan Indonesia.

Ada beberapa toko dan tempat yang memang menyediakan cabe untuk Anda beli. Beberapa harganya mahal banget karena satu kilogram cabe mencapai NZ$ 40 (Rp. 240.000), itu juga rasanya nggak pedas, kurang mantap deh pokoknya. Kalau mau agak murah (sekitar NZ$ 2 perpack (1 ons) ya di Sunday Market, tapi masalahnya kita rajin ngga nyamperin ke sana tiap minggu? Jadi kayaknya pilihan untuk beli cabe yang lumayan segar ya di Dixon Street ini deh.

Alternatif lain? Sabar yah... Nanti saya posting lagi kalau sudah ketemu.

Dragon Boat Festival, Wellington

Wellington Dragon Boat Festival available in English, click here.

Event ini dilaksanakan pada hari Sabtu-Minggu, 21-22 Maret 2009. Acara yang cukup meriah. Ada beberapa tim yang ikut berlomba. Hanya saja saya nggak tahu berapa timnya.

Saat itu saya berdua bersama istri. Istri kan kerja paruh waktu di Te Papa Museum, jadi pas pulang saya jemput. Kami sempatkan berjalan-jalan di Wellington Harbour cukup lama karena pingin nonton Wellington Dragon Boat Festival. Ada beberapa ratus foto yang sempat saya ambil bersama istri.

Acara ini cukup meriah karena banyak turis yang datang, even nasional tapi bisa dimanfaatkan oleh agen-agen wisata New Zealand sehingga supporter nggak hanya datang dari dalam negeri tapi juga dari luar negeri. Termasuk saya sama istri ini. Hehe...

Acara ini dilaksanakan dengan Sunday Market, jadi cukup strategis. Soalnya hari Minggu saya bisa sekalian belanja.

Mau Nyebrang Jalan, Pencet ini dulu yah (Wellington)

Nah, ini akan banyak Anda temukan saat mau menyeberang di traffic light di Wellington pada khususnya dan New Zealand pada umumnya. Pertama kali saya mau nyebrang jalan di Wellington saya juga bingung, kok semua orang pada mencet tombol yang tertanam di tiang lampu traffic light yah. Ooh..., ternyata itu tombol khusus untuk para pedestrian.

Wah kapan ya di Indonesia ada kayak begini. Yah, memang sistem pedestrian di Indonesia masih mengandalkan lampu merah kuning hijau yang dikendalikan oleh timer. Kalau di Wellington, sudah ada tombolnya untuk itu. Jika mau nyebrang, tinggal pencet, tunggu beberapa saat sampai lampu hijau bergambar orang berjalan menyala.

Biar lebih jelas, di zoom saja gambarnya gapapa.

Jika mau menyebrang jalan di New Zealand hati-hati yah, mereka pada patuh hukum. Jadi kalau lampu tanda pedestrian boleh menyebrang menyala barulah menyebrang. Jika belum, hati-hati. Pastikan benar-benar jalur kendaraan lagi sepi atau kita ditabrak tanpa ampun karena kita yang melanggar hukum, menyebrang pada saat yang salah. Perhatikan lampu dan instruksi pada foto yang saya lampirkan di postingan ini.