Kheira Alexandrina Andoyo

src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjo2viLTK0reBORmQSaTtNo297OmBwzaYiqXTQtKb0h3goJ-SskAtK9knnAnATMltwU9yx_VyTZG7d-3morG3htaWDD3J_QNzQteaXeYwCNgese_uR62E8z0Pjd86RExTN-VC50W1ly_GQ/s320/Kheira+Alexandrina+Andoyo+%285%29.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5409017171234867266" border="0" />









Kheira Alexandrina Andoyo



Kami Andoyo dan istri tercinta Eflita Meiyetriani beserta keluarga mengucakan rasa syukur pada Allah dan terimakasih kepada yang telah membantu dalam kehidupan kami.

Alhamdulillah, telah lahir putri pertama kami pada hari Kamis kurang lebih pukul 22.30 WIB di RS Mitra Keluarga Depok.

Mohon doanya agar menjadi anak yang sholehah, bermanfaat di dunia dan akhirat.

Kheira Alexandrina Andoyo

Anak Pertama Kami

Kami Andoyo dan istri tercinta Eflita Meiyetriani beserta keluarga mengucakan rasa syukur pada Allah dan terimakasih kepada yang telah membantu dalam kehidupan kami.

Alhamdulillah, telah lahir putri pertama kami pada hari Kamis kurang lebih pukul 22.30 WIB di RS Mitra Keluarga Depok.

Mohon doanya agar menjadi anak yang sholehah, bermanfaat di dunia dan akhirat.

Fotonya menyusul yaa...

Jalan-Jalan dari Wellington ke Island Bay Untuk Melihat Seal (Anjing Laut)

Perjalanan yang cukup melelahkan. Untuk pertama kalinya saya melihat Seal dengan mata kepala sendiri, tapi untuk mencapainya bukanlah hal yang mudah. Deddy Pasareken, teman saya menjadi guide dalam perjalanan ini.


Perjalanan ke Island Bay dari kota Wellington sekitar 30 menit dengan bus. Kita bisa memilih Bus Go Wellington nomor 1 dan nomor 4 untuk mencapai Island Bay, cukup bayar 6 dolar untuk tiket pulang pergi berkali-kali. Untuk selanjutnya kita harus berjalan sekitar 1,5 jam untuk mencapai di mana seal suka berjemur. Red Rock adalah salah satu bagian yang tidak bisa kita lewatkan.

Redrock sebenarnya adalah batuan yang berwarna merah, letaknya tidak jauh dari lokasi dimana seal berjemur.

Berhubung kami tidak memiliki kendaraan off road, maka kaki ini terpaksa harus menjadi kendaraan off road kami untuk mencapai lokasi di mana Seal ini berada. Perjalanan satu setengah jam di medan berpasir dan berbatu membuat perjalanan dan langkah kami bertambah berat. Hembusan angin dingin pun membuat perjalanan ini semakin berkesan.

Tidak banyak yang saya lihat memang, ini karena Seal-Seal ini sudah mulai bermigrasi ke arah selatan yang lebih dingin. Normalnya mereka ada di Island Bay dan sekitar Red Rock sekitar bulan Mei sampai Oktober. Kami datang ke sana bulan Oktober, di mana Seal ini sudah mulai melakukan migrasi.

Meskipun hanya sekitar empat ekor yang saya temui, sudah cukup puas. Puas jalannya dan puas perjuangannya. Hehe..., kami juga sempat melihat beberapa Posum, hewan yang menjadi hama bagi orang New Zealand. Satu ekor kami temukan mati terlindas kendaraan off road, yang lainnya berlarian di antara semak belukar di lereng pegunungan karang di sekitar lokasi Seal berada.

Hayooo...siapa yang mau ke sini? Silakan kontak kami. Kami siap menjadi guide Anda. Syukur-syukur kalau mau sekalian sewa kendaraan off road... Pengalaman jalan kaki yang tak terlupakan...

New Zealand, Banyak Orang yang Ingin Berangkat Ditipu oleh Agen Nakal

Ada banyak kejadian menyedihkan karena keinginan yang besar untuk kuliah dan bekerja di luar negeri akhirnya kandas di tengah jalan. Sedangkan mereka yang sudah tiba di New Zealand ternyata mendapatkan sesuatu yang tidak sesuai dengan yang dijanjikan saat masih di Indonesia.

Penipuan oleh agen atau pun secara perorangan kerap terjadi pada orang-orang yang ingin berangkat melanjutkan pendidikan atau bekerja. New Zealand, adalah salah satu negara yang cukup prospektif untuk para agen dalam mengais rejeki yang mungkin bisa dikatakan tidak halal. Letak yang jauh dari Indonesia, kurangnya informasi tentang negara ini, dan iming-iming mendapatkan pekerjaan mudah sembari bekerja adalah banyak hal yang menjadi peluang untuk mengelabui para korban.

Ada banyak kisah sedih dari beberapa korban yang saat ini berada di New Zealand. Beberapa orang dijanjikan bisa kuliah dan bekerja part time di Wellington secara layak akhirnya terpaksa harus terjerat dengan pinjaman yang sangat memberatkan pada beberapa lembaga.

Ada juga yang dijanjikan untuk mendapatkan kerja di perkebunan dan peternakan, sedangkan visa yang mereka bawa adalah visa visitor yang hanya berlaku tiga bulan. Mendapatkan pekerjaan di kebun tidaklah semudah yang dikatakan agen-agen tersebut, waktu tiga bulan akan sangat berat untuk mendapatkan sejumlah uang yang kita pakai untuk berangkat ke negara tersebut.

Memahami Konsep Para Agen Nakal

Agen menggunakan berbagai macam cara untuk menarik orang-orang yang ingin melanjutkan kuliah di luar negeri agar masuk ke dalam jerat mereka. Ada beberapa agen yang memang cukup transparan dan jujur dalam menyampaikan kondisi sebenarnya, ada juga beberapa oknum agen yang menghalalkan segala cara untuk menjerat korbanya. Semua agen yang baik dan buruk itu rata-rata memiliki lembaga resmi, entah itu lembaga pendidikan atau pun sejenis PJTKI.

Untuk agen pendidikan mereka akan mendapatkan sejumlah fee (uang) yang biasanya berkisar 5-30% dari nilai yang kita bayarkan ke lembaga pendidikan di New Zealand. Hal inilah kiranya yang kadang membuat agen gelap mata dan berusaha menarik orang sebanyak-banyaknya serta menggunakan cara-cara yang tidak jujur.

Beberapa kasus bahkan masuk ke dalam surat kabar ternama di Jakarta, Kalimantan Timur dan area Sulawesi. Presentasinya juga tidak tanggung-tanggung, karena pembiacaranya bertitel doktor dan menjadi salah satu pengajar di universitas ternama di Indonesia.

Sering mereka mengundang para akademisi, guru-guru, lembaga pendidikan dan dilaksanakan di hadapan pimpinan kepala daerah dengan janji belajar bahasa Inggris, program doktoral S3, S2, diploma dan sebagainya. Para calon korban ini biasanya dijanjikan bisa kuliah dan bekerja part time di kebun, di restoran, cleaner dan sebagainya.
Padahal misi sebenarnya adalah agar agen mendapatkan fee dari lembaga pendidikan terkait tanpa memikirkan nasib para korban saat mereka sampai di New Zealand nanti. Sering pula mereka juga mengatakan kalau memiliki kantor dan tempat tinggal sementara di New Zealand bagi para korban ini, padahal sebenarnya tidak.

Menghindari Penipuan Agen Nakal

Ada beberapa saran yang mudah-mudahan bisa digunakan untuk menghindari para agen-agen nakal ini. Menggali informasi sebanyak-banyaknya tentang negara yang akan kita kunjungi menjadi sesuatu yang wajib untuk kita lakukan. Jangan mudah percaya terhadap janji-janji para agen nakal, meskipun yang memberikan janji-janji itu pernah kuliah di New Zealand dan bergelar akademik tinggi.

Jika kita memiliki dana yang cukup, saya sarankan langsung meminta ke Kedutaan negara terkait agar lebih jelas prosedurnya, lebih legal hukum dan akan memberikan kemudahan bagi kita saat kita tiba di New Zealand kelak. Menghubungi teman-teman atau orang yang kita kenal yang berada di New Zealand secara langsung cara terbaik dan termudah untuk mendapatkan informasi selengkap-lengkapnya.

Beasiswa, pertukaran pelajar, perekrutan tenaga kerja secara legal, pembiayaan pribadi dan hal-hal yang dijalankan secara legal serta transparan adalah hal yang lebih baik untuk selanjutnya kita bisa memutuskan berangkat ke negeri Kiwi. Janganlah keinginan besar untuk kuliah dan bekerja di luar negeri membutakan mata hati kita sehingga kita tertipu dengan janji-janji, terjerat hutang puluhan juta rupiah dan terlunta-lunta jauh dari keluarga.

Artikel Terkait:
  1. Imigrasi New Zealand
  2. Mencari Flat atau Apartemen di Wellington

  3. Kerja Part Time di Wellington? Buka Website ini yah

  4. Kuliah di New Zealand, Universitas dan Polytechnic Terkemuka di New Zealand (North Island)

  5. Website Cari Flat/Apartemen di New Zealand, Khususnya Wellington



Mencari Flat atau Apartemen di Wellington

Hayooo...., siapa yang mau ke Wellington? Mau menginap dimana? Mau tidur dimana?


Ini pertanyaan dan teka-teki yang selalu menjadi pertanyaan setiap kali ingin menuju ke luar negeri, salah satunya ke Wellington New Zealand. Nanti kalau sampai di Wellington mau menginap dimana ya? Mahal apa murah ya?

Tips ini mudah-mudahan bermanfaat jika Anda untuk pertama kalinya berkesempatan untuk berangkat untuk melanjutkan kuliah atau bekerja di kota Wellington, New Zealand. Silakan di baca ya, kalau ada informasi yang ingin ditanyakan bisa kontak langsung ke saya.

Mengenal tata kota Wellington


Penggunaan Google Map di kota Wellington menurut saya sudah cukup optimal untuk mengetahui tata kota Wellington secara cukup detail. Pastikan tempat kuliah atau tempat bekerja Anda beralamat di mana, lalu search saja di Google Map. Dari sini nanti kita bisa memperkirakan berapa jauh jarak flat atau apartemen Anda. Kota Wellington bukanlah kota yang besar, jadi cukup mudah untuk mengeksplor kota ini.


View Larger Map

Membuka Website Penyedia Layanan Apartemen atau Flat

Ada beberapa website yang menyediakan informasi cukup lengkap tentang ketersediaan flat yang Anda inginkan. Untuk masalah ini silakan baca di artikel Website Cari Flat/Apartemen di New Zealand, Khususnya Wellington. Rincian harga dan map biasanya di lampirkan juga di website-website tersebut, jadi Anda bisa memperkirakan jauh dekatnya jarak antara flat dan tempat yang Anda tuju.

Mencari informasi teman-teman dari Indonesia yang ada di Wellington

Ini mungkin cara termudah untuk mendapatkan referensi flat di Wellington. Sekarang ada banyak fasilitas yang memungkinkan kita mendapatkan informasi orang-orang Indonesia yang hidup di Wellington, fasilitas Facebook dan Google bisa kita gunakan untuk mendapatkan informasi itu. Jika Anda masuk dan membaca artikel ini berarti Anda sudah menjalankan tips ini.

Itu dulu ya, terimakasih karena sudah membuka blog ini. Jika sempat silakan tinggalkan comment di bawah yaa...


Artikel Terkait:
  1. Website Cari Flat/Apartemen di New Zealand, Khususnya Wellington

  2. Wellington, Kota Berangin yang Indah Minim Debu

  3. Jalan dan Jalur Pedestrian di New Zealand

  4. Transportasi di New Zealand, Khususnya Wellington

  5. Kerja Part Time di Wellington? Buka Website ini yah







Doa Seorang Suami

Kehidupan berkeluarga itu ternyata lebih mengasyikkan dari yang kubayangkan...

Ada kebahagiaan saat bertemu keluarga tercinta...

Ada keberkahan dan kesenangan ketika bercanda berdua dengan istri yang disayangi...

Ada hati yang berdebar-debar menantikan kelahiran anak pertama...
Ada kedewasaan yang tumbuh untuk belajar bertanggung jawab...

Ada waktu untuk bermanja dan dimanja...

Ada pula pertengkaran kecil yang membuat kami saling menyayangi dan memahami...

Terimakasih ya Allah, Engkau telah menaikkan derajatku dari seorang bujangan menjadi seorang suami...

Jadikanlah hamba sebagai suami yang memberikan kemudahan dunia dan akhirat...

CINTA LAKI-LAKI BIASA (True Story)


Ditulis oleh Farid Ma'ruf di/pada Februari 4, 2007

Artikel Bebas
30 Juli 2005 – 12:02


Menjelang hari H, Nania masih saja sulit mengungkapkan alasan kenapa dia mau menikah dengan lelaki itu. Baru setelah menengok ke belakang, hari-hari yang dilalui, gadis cantik itu sadar, keheranan yang terjadi bukan semata miliknya, melainkan menjadi milik banyak orang; Papa dan Mama, kakak-kakak, tetangga, dan teman-teman Nania. Mereka ternyata sama herannya.


Kenapa? Tanya mereka di hari Nania mengantarkan surat undangan.


Saat itu teman-teman baik Nania sedang duduk di kantin menikmati hari-hari sidang yang baru saja berlalu. Suasana sore di kampus sepi. Berpasang-pasang mata tertuju pada gadis itu.


Tiba-tiba saja pipi Nania bersemu merah, lalu matanya berpijar bagaikan lampu neon limabelas watt. Hatinya sibuk merangkai kata-kata yg barangkali beterbangan di otak melebihi kapasitas. Mulut Nania terbuka. Semua menunggu. Tapi tak ada apapun yang keluar dari sana. Ia hanya menarik nafas, mencoba bicara dan? menyadari, dia tak punya kata-kata!


Dulu gadis berwajah indo itu mengira punya banyak jawaban, alasan detil dan spesifik, kenapa bersedia menikah dengan laki-laki itu. Tapi kejadian di kampus adalah kali kedua Nania yang pintar berbicara mendadak gagap. Yang pertama terjadi tiga bulan lalu saat Nania menyampaikan keinginan Rafli untuk melamarnya. Arisan keluarga Nania dianggap momen yang tepat karena semua berkumpul, bahkan hingga generasi ketiga, sebab kakak-kakaknya yang sudah berkeluarga membawa serta buntut mereka.


Kamu pasti bercanda!


Nania kaget. Tapi melihat senyum yang tersungging di wajah kakak tertua, disusul senyum serupa dari kakak nomor dua, tiga, dan terakhir dari Papa dan Mama membuat Nania menyimpulkan: mereka serius ketika mengira Nania bercanda.


Suasana sekonyong-konyong hening. Bahkan keponakan-keponakan Nania yang balita melongo dengan gigi-gigi mereka yang ompong. Semua menatap Nania!


Nania serius! tegasnya sambil menebak-nebak, apa lucunya jika Rafli memang melamarnya.


Tidak ada yang lucu, suara Papa tegas, Papa hanya tidak mengira Rafli berani melamar anak Papa yang paling cantik!


Nania tersenyum. Sedikit lega karena kalimat Papa barusan adalah pertanda baik. Perkiraan Nania tidak sepenuhnya benar sebab setelah itu berpasang-pasang mata kembali menghujaninya, seperti tatapan mata penuh selidik seisi ruang pengadilan pada tertuduh yang duduk layaknya pesakitan.


Tapi Nania tidak serius dengan Rafli, kan? Mama mengambil inisiatif bicara, masih seperti biasa dengan nada penuh wibawa, maksud Mama siapa saja boleh datang melamar siapapun, tapi jawabannya tidak harus iya, toh?


Nania terkesima.


Kenapa?


Sebab kamu gadis Papa yang paling cantik.


Sebab kamu paling berprestasi dibandingkan kami. Mulai dari ajang busana, sampai lomba beladiri. Kamu juga juara debat bahasa Inggris, juara baca puisi seprovinsi. Suaramu bagus!


Sebab masa depanmu cerah. Sebentar lagi kamu meraih gelar insinyur. Bakatmu yang lain pun luar biasa. Nania sayang, kamu bisa mendapatkan laki-laki manapun yang kamu mau!


Nania memandangi mereka, orang-orang yang amat dia kasihi, Papa, kakak-kakak, dan terakhir Mama. Takjub dengan rentetan panjang uraian mereka atau satu kata ‘kenapa’ yang barusan Nania lontarkan.


Nania Cuma mau Rafli, sahutnya pendek dengan airmata mengambang di kelopak.


Hari itu dia tahu, keluarganya bukan sekadar tidak suka, melainkan sangat tidak menyukai Rafli. Ketidaksukaan yang mencapai stadium empat. Parah.


Tapi kenapa?


Sebab Rafli cuma laki-laki biasa, dari keluarga biasa, dengan pendidikan biasa, berpenampilan biasa, dengan pekerjaan dan gaji yg amat sangat biasa.


Bergantian tiga saudara tua Nania mencoba membuka matanya.


Tak ada yang bisa dilihat pada dia, Nania!


Cukup!


Nania menjadi marah. Tidak pada tempatnya ukuran-ukuran duniawi menjadi parameter kebaikan seseorang menjadi manusia. Di mana iman, di mana tawakkal hingga begitu mudah menentukan masa depan seseorang dengan melihat pencapaiannya hari ini?


Sayangnya Nania lagi-lagi gagal membuka mulut dan membela Rafli. Barangkali karena Nania memang tidak tahu bagaimana harus membelanya. Gadis itu tak punya fakta dan data konkret yang bisa membuat Rafli tampak ‘luar biasa’. Nania Cuma punya idealisme berdasarkan perasaan yang telah menuntun Nania menapaki hidup hingga umur duapuluh tiga. Dan nalurinya menerima Rafli. Di sampingnya Nania bahagia.


Mereka akhirnya menikah.


***


Setahun pernikahan.


Orang-orang masih sering menanyakan hal itu, masih sering berbisik-bisik di belakang Nania, apa sebenarnya yang dia lihat dari Rafli. Jeleknya, Nania masih belum mampu juga menjelaskan kelebihan-kelebihan Rafli agar tampak di mata mereka.


Nania hanya merasakan cinta begitu besar dari Rafli, begitu besar hingga Nania bisa merasakannya hanya dari sentuhan tangan, tatapan mata, atau cara dia meladeni Nania. Hal-hal sederhana yang membuat perempuan itu sangat bahagia.


Tidak ada lelaki yang bisa mencintai sebesar cinta Rafli pada Nania.


Nada suara Nania tegas, mantap, tanpa keraguan.


Ketiga saudara Nania hanya memandang lekat, mata mereka terlihat tak percaya.


Nia, siapapun akan mudah mencintai gadis secantikmu! Kamu adik kami yang tak hanya cantik, tapi juga pintar! Betul. Kamu adik kami yang cantik, pintar, dan punya kehidupan sukses!


Nania merasa lidahnya kelu. Hatinya siap memprotes. Dan kali ini dilakukannya sungguh-sungguh. Mereka tak boleh meremehkan Rafli.


Beberapa lama keempat adik dan kakak itu beradu argumen.


Tapi Rafli juga tidak jelek, Kak!
Betul. Tapi dia juga tidak ganteng kan?


Rafli juga pintar!
Tidak sepintarmu, Nania.


Rafli juga sukses, pekerjaannya lumayan. Hanya lumayan, Nania. Bukan sukses. Tidak sepertimu.


Seolah tak ada apapun yang bisa meyakinkan kakak-kakaknya, bahwa adik mereka beruntung mendapatkan suami seperti Rafli. Lagi-lagi percuma.


Lihat hidupmu, Nania. Lalu lihat Rafli!
Kamu sukses, mapan, kamu bahkan tidak perlu lelaki untuk menghidupimu.


Teganya kakak-kakak Nania mengatakan itu semua. Padahal adik mereka sudah menikah dan sebentar lagi punya anak.


Ketika lima tahun pernikahan berlalu, ocehan itu tak juga berhenti. Padahal Nania dan Rafli sudah memiliki dua orang anak, satu lelaki dan satu perempuan. Keduanya menggemaskan. Rafli bekerja lebih rajin setelah mereka memiliki anak-anak. Padahal itu tidak perlu sebab gaji Nania lebih dari cukup untuk hidup senang. Tak apa, kata lelaki itu, ketika Nania memintanya untuk tidak terlalu memforsir diri. Gaji Nania cukup, maksud Nania jika digabungkan dengan gaji Abang.


Nania tak bermaksud menyinggung hati lelaki itu. Tapi dia tak perlu khawatir sebab suaminya yang berjiwa besar selalu bisa menangkap hanya maksud baik..


Sebaiknya Nania tabungkan saja, untuk jaga-jaga. Ya? Lalu dia mengelus pipi Nania dan mendaratkan kecupan lembut. Saat itu sesuatu seperti kejutan listrik menyentakkan otak dan membuat pikiran Nania cerah.


Inilah hidup yang diimpikan banyak orang. Bahagia!


Pertanyaan kenapa dia menikahi laki-laki biasa, dari keluarga biasa, dengan pendidikan biasa, berpenampilan biasa, dengan pekerjaan dan gaji yang amat sangat biasa, tak lagi mengusik perasaan Nania. Sebab ketika bahagia, alasan-alasan menjadi tidak penting.


Menginjak tahun ketujuh pernikahan, posisi Nania di kantor semakin gemilang, uang mengalir begitu mudah, rumah Nania besar, anak-anak pintar dan lucu, dan Nania memiliki suami terbaik di dunia. Hidup perempuan itu berada di puncak!


Bisik-bisik masih terdengar, setiap Nania dan Rafli melintas dan bergandengan mesra. Bisik orang-orang di kantor, bisik tetangga kanan dan kiri, bisik saudara-saudara Nania, bisik Papa dan Mama.


Sungguh beruntung suaminya. Istrinya cantik.
Cantik ya? dan kaya!


Tak imbang!

Dulu bisik-bisik itu membuatnya frustrasi. Sekarang pun masih, tapi Nania belajar untuk bersikap cuek tidak peduli. Toh dia hidup dengan perasaan bahagia yang kian membukit dari hari ke hari.


Tahun kesepuluh pernikahan, hidup Nania masih belum bergeser dari puncak. Anak-anak semakin besar. Nania mengandung yang ketiga. Selama kurun waktu itu, tak sekalipun Rafli melukai hati Nania, atau membuat Nania menangis.


***


Bayi yang dikandung Nania tidak juga mau keluar. Sudah lewat dua minggu dari waktunya.

Plasenta kamu sudah berbintik-bintik. Sudah tua, Nania. Harus segera dikeluarkan!

Mula-mula dokter kandungan langganan Nania memasukkan sejenis obat ke dalam rahim Nania. Obat itu akan menimbulkan kontraksi hebat hingga perempuan itu merasakan sakit yang teramat sangat. Jika semuanya normal, hanya dalam hitungan jam, mereka akan segera melihat si kecil.


Rafli tidak beranjak dari sisi tempat tidur Nania di rumah sakit. Hanya waktu-waktu shalat lelaki itu meninggalkannya sebentar ke kamar mandi, dan menunaikan shalat di sisi tempat tidur. Sementara kakak-kakak serta orangtua Nania belum satu pun yang datang.


Anehnya, meski obat kedua sudah dimasukkan, delapan jam setelah obat pertama, Nania tak menunjukkan tanda-tanda akan melahirkan. Rasa sakit dan melilit sudah dirasakan Nania per lima menit, lalu tiga menit. Tapi pembukaan berjalan lambat sekali.


Baru pembukaan satu. Belum ada perubahan, Bu. Sudah bertambah sedikit, kata seorang suster empat jam kemudian menyemaikan harapan.


Sekarang pembukaan satu lebih sedikit. Nania dan Rafli berpandangan. Mereka sepakat suster terakhir yang memeriksa memiliki sense of humor yang tinggi.


Tigapuluh jam berlalu. Nania baru pembukaan dua. Ketika pembukaan pecah, didahului keluarnya darah, mereka terlonjak bahagia sebab dulu-dulu kelahiran akan mengikuti setelah ketuban pecah. Perkiraan mereka meleset.


Masih pembukaan dua, Pak! Rafli tercengang. Cemas. Nania tak bisa menghibur karena rasa sakit yang sudah tak sanggup lagi ditanggungnya. Kondisi perempuan itu makin payah. Sejak pagi tak sesuap nasi pun bisa ditelannya.


Bang? Rafli termangu. Iba hatinya melihat sang istri memperjuangkan dua kehidupan.


Dokter?


Kita operasi, Nia. Bayinya mungkin terlilit tali pusar.

Mungkin? Rafli dan Nania berpandangan. Kenapa tidak dari tadi kalau begitu? Bagaimana jika terlambat?


Mereka berpandangan, Nania berusaha mengusir kekhawatiran. Ia senang karena Rafli tidak melepaskan genggaman tangannya hingga ke pintu kamar operasi. Ia tak suka merasa sendiri lebih awal.


Pembiusan dilakukan, Nania digiring ke ruangan serba putih. Sebuah sekat ditaruh di perutnya hingga dia tidak bisa menyaksikan ketrampilan dokter-dokter itu. Sebuah lagu dimainkan. Nania merasa berada dalam perahu yang diguncang ombak. Berayun-ayun. Kesadarannya naik-turun. Terakhir, telinga perempuan itu sempat menangkap teriakan-teriakan di sekitarnya, dan langkah-langkah cepat yang bergerak, sebelum kemudian dia tak sadarkan diri.


Kepanikan ada di udara. Bahkan dari luar Rafli bisa menciumnya. Bibir lelaki itu tak berhenti melafalkan zikir.


Seorang dokter keluar, Rafli dan keluarga Nania mendekat.


Pendarahan hebat!


Rafli membayangkan sebuah sumber air yang meluap, berwarna merah. Ada varises di mulut rahim yang tidak terdeteksi dan entah bagaimana pecah! Bayi mereka selamat, tapi Nania dalam kondisi kritis.


Mama Nania yang baru tiba, menangis. Papa termangu lama sekali. Saudara-saudara Nania menyimpan isak, sambil menenangkan orangtua mereka.


Rafli seperti berada dalam atmosfer yang berbeda. Lelaki itu tercenung beberapa saat, ada rasa cemas yang mengalir di pembuluh-pembuluh darahnya dan tak bisa dihentikan, menyebar dan meluas cepat seperti kanker.


Setelah itu adalah hari-hari penuh doa bagi Nania.



***


Sudah seminggu lebih Nania koma. Selama itu Rafli bolak-balik dari kediamannya ke rumah sakit. Ia harus membagi perhatian bagi Nania dan juga anak-anak. Terutama anggota keluarganya yang baru, si kecil. Bayi itu sungguh menakjubkan, fisiknya sangat kuat, juga daya hisapnya. Tidak sampai empat hari, mereka sudah oleh membawanya pulang.


Mama, Papa, dan ketiga saudara Nania terkadang ikut menunggui Nania di rumah sakit, sesekali mereka ke rumah dan melihat perkembangan si kecil. Walau tak banyak, mulai terjadi percakapan antara pihak keluarga Nania dengan Rafli.


Lelaki itu sungguh luar biasa. Ia nyaris tak pernah meninggalkan rumah sakit, kecuali untuk melihat anak-anak di rumah. Syukurnya pihak perusahaan tempat Rafli bekerja mengerti dan memberikan izin penuh. Toh, dedikasi Rafli terhadap kantor tidak perlu diragukan.


Begitulah Rafli menjaga Nania siang dan malam. Dibawanya sebuah Quran kecil, dibacakannya dekat telinga Nania yang terbaring di ruang ICU. Kadang perawat dan pengunjung lain yang kebetulan menjenguk sanak famili mereka, melihat lelaki dengan penampilan sederhana itu bercakap-cakap dan bercanda mesra..


Rafli percaya meskipun tidak mendengar, Nania bisa merasakan kehadirannya.


Nania, bangun, Cinta? Kata-kata itu dibisikkannya berulang-ulang sambil mencium tangan, pipi dan kening istrinya yang cantik.


Ketika sepuluh hari berlalu, dan pihak keluarga mulai pesimis dan berfikir untuk pasrah, Rafli masih berjuang. Datang setiap hari ke rumah sakit, mengaji dekat Nania sambil menggenggam tangan istrinya mesra. Kadang lelaki itu membawakan buku-buku kesukaan Nania ke rumah sakit dan membacanya dengan suara pelan. Memberikan tambahan di bagian ini dan itu. Sambil tak bosan-bosannya berbisik,


Nania, bangun, Cinta? Malam-malam penantian dilewatkan Rafli dalam sujud dan permohonan. Asalkan Nania sadar, yang lain tak jadi soal. Asalkan dia bisa melihat lagi cahaya di mata kekasihnya, senyum di bibir Nania, semua yang menjadi sumber semangat bagi orang-orang di sekitarnya, bagi Rafli.


Rumah mereka tak sama tanpa kehadiran Nania. Anak-anak merindukan ibunya. Di luar itu Rafli tak memedulikan yang lain, tidak wajahnya yang lama tak bercukur, atau badannya yang semakin kurus akibat sering lupa makan.


Ia ingin melihat Nania lagi dan semua antusias perempuan itu di mata, gerak bibir, kernyitan kening, serta gerakan-gerakan kecil lain di wajahnya yang cantik. Nania sudah tidur terlalu lama.


Pada hari ketigapuluh tujuh doa Rafli terjawab. Nania sadar dan wajah penat Rafli adalah yang pertama ditangkap matanya.


Seakan telah begitu lama. Rafli menangis, menggenggam tangan Nania dan mendekapkannya ke dadanya, mengucapkan syukur berulang-ulang dengan airmata yang meleleh.


Asalkan Nania sadar, semua tak penting lagi.


Rafli membuktikan kata-kata yang diucapkannya beratus kali dalam doa. Lelaki biasa itu tak pernah lelah merawat Nania selama sebelas tahun terakhir. Memandikan dan menyuapi Nania, lalu mengantar anak-anak ke sekolah satu per satu. Setiap sore setelah pulang kantor, lelaki itu cepat-cepat menuju rumah dan menggendong Nania ke teras, melihat senja datang sambil memangku Nania seperti remaja belasan tahun yang sedang jatuh cinta.


Ketika malam Rafli mendandani Nania agar cantik sebelum tidur. Membersihkan wajah pucat perempuan cantik itu, memakaikannya gaun tidur. Ia ingin Nania selalu merasa cantik. Meski seringkali Nania mengatakan itu tak perlu. Bagaimana bisa merasa cantik dalam keadaan lumpuh?


Tapi Rafli dengan upayanya yang terus-menerus dan tak kenal lelah selalu meyakinkan Nania, membuatnya pelan-pelan percaya bahwa dialah perempuan paling cantik dan sempurna di dunia. Setidaknya di mata Rafli.


Setiap hari Minggu Rafli mengajak mereka sekeluarga jalan-jalan keluar. Selama itu pula dia selalu menyertakan Nania. Belanja, makan di restoran, nonton bioskop, rekreasi ke manapun Nania harus ikut. Anak-anak, seperti juga Rafli, melakukan hal yang sama, selalu melibatkan Nania. Begitu bertahun-tahun.


Awalnya tentu Nania sempat merasa risih dengan pandangan orang-orang di sekitarnya. Mereka semua yang menatapnya iba, lebih-lebih pada Rafli yang berkeringat mendorong kursi roda Nania ke sana kemari. Masih dengan senyum hangat di antara wajahnya yang bermanik keringat.


Lalu berangsur Nania menyadari, mereka, orang-orang yang ditemuinya di jalan, juga tetangga-tetangga, sahabat, dan teman-teman Nania tak puas hanya memberi pandangan iba, namun juga mengomentari, mengoceh, semua berbisik-bisik.


Baik banget suaminya! Lelaki lain mungkin sudah cari perempuan kedua!

Nania beruntung! Ya, memiliki seseorang yang menerima dia apa adanya.


Tidak, tidak cuma menerima apa adanya, kalian lihat bagaimana suaminya memandang penuh cinta. Sedikit pun tak pernah bermuka masam!


Bisik-bisik serupa juga lahir dari kakaknya yang tiga orang, Papa dan Mama.

Bisik-bisik yang serupa dengungan dan sempat membuat Nania makin frustrasi, merasa tak berani, merasa?


Tapi dia salah. Sangat salah. Nania menyadari itu kemudian. Orang-orang di luar mereka memang tetap berbisik-bisik, barangkali selamanya akan selalu begitu. Hanya saja, bukankah bisik-bisik itu kini berbeda bunyi?


Dari teras Nania menyaksikan anak-anaknya bermain basket dengan ayah mereka.. Sesekali perempuan itu ikut tergelak melihat kocak permainan.


Ya. Duapuluh dua tahun pernikahan. Nania menghitung-hitung semua, anak-anak yang beranjak dewasa, rumah besar yang mereka tempati, kehidupan yang lebih dari yang bisa dia syukuri. Meski tubuhnya tak berfungsi sempurna. Meski kecantikannya tak lagi sama karena usia, meski karir telah direbut takdir dari tangannya.


Waktu telah membuktikan segalanya. Cinta luar biasa dari laki-laki biasa yang tak pernah berubah, untuk Nania.

Seperti yg diceritakan oleh seorang sahabat..

- Asma Nadia -